Friday, February 04, 2011
Saturday, January 22, 2011
Hari Gini, Perlukah Saluran Telepon Rumah/PSTN (Public Switched Telephone Network)?
Saat dunia pertelekomunikasian banjir dengan beragam jenis telepon genggam ataupun fix wireless phone serta kemudahan mendapat/membeli nomer di mana saja, masihkah diperlukan saluran telepon rumah ?
Bagi saya jawabannya “YA”. Telepon rumah masih lebih dapat dipercaya tidak tergantung cuaca, sinyal, pulsa, tidak butuh listrik, murah, radiasi lebih kecil dan lebih mudah dihapal nomer teleponnya (terutama buat anak-anak). Telepon genggam sebagai penunjang mobilitas dalam berkomunikasi.
Nomer telepon rumah saya hanya diketahui oleh kantor, keluarga, saudara dan teman dekat. Jadi kebanyakan untuk komunikasi yang sifatnya penting.
Beberapa orang masih memerlukan sambungan PSTN karena berhubungan dengan urusan bisnis dan kebutuhan lain semisal bonafiditas usaha, aplikasi kartu kredit, persyaratan KPR/KPM, pemasangan internet dsb. Karena birokrasi pemasangan PSTN memerlukan identitas yang benar. Mendapatkan saluran PSTN dari Telkom tidak semudah mendapatkan sambungan telepon fix wireless sehingga jarang orang melakukan penipuan via telepon dari nomer PSTN.
Bagi saya, sambungan PSTN ini saya perlukan untuk komunikasi dua arah yang penting. Untuk hal darurat saya mengajarkan kepada anak untuk menghubungi nomer telepon rumah, mereka bisa menghubungi rumah dari telepon umum koin/kartu, wartel, bahkan meminjam pesawat telepon dari sekolah atau teman, tanpa takut merugikan pihak lain karena pulsa yang mahal.
Untuk hal-hal darurat, bencana, listrik mati, kecelakaan, kematian, penculikan (naudzubilah !) berita gawat dan lain-lain walaupun jarang terjadi, saya tetap merasa perlu memakai saluran telepon rumah. Kalau malam-malam telepon rumah berdering, artinya ada berita yang cukup penting.
Kebanyakan orang memutus saluran PSTN-nya karena nilai abonemennya yang dianggap mahal dibanding nilai pulsa HP. Bayangin Rp 38 ribu kalau beli pulsa CDMA bisa berapa menit tuh, belum lagi SMS sepuasnya.
Sekarang, tinggal bagaimana PT Telkom bersaing harga, mutu layanan dan fasilitas PSTN.
Di banyak negara lain, harga abonemen sudah termasuk gratis nelpon sesama PSTN dalam kota. Atau gratis fitur call waiting maupun fitur sms.
Banyak pula yang berpikir, nomer telepon HP gampang didapat kenapa harus pasang telepon rumah? Bagaimana dengan anda?
Saturday, January 08, 2011
HP ku Hilang.
Beberapa hari kemudian uang saya di ATM hilang Rp100 ribu dengan cara yang unik. Saya melakukan penarikan Rp900 ribu (kala itu maksimal penarikan Rp1juta) via ATM, begitu uang keluar buru-buru saya bergegas, kartu ATM lupa diambil. Keesokan hari ketika nge-print buku tabungan, ada yang mendebet Rp100ribu dari kartu ATM yang tertelan itu. Janggal tapi saling berkaitan. Dan masih banyak kejadian serupa berulang, sampai akhirnya saya yakin ada Arsitek skenario yang mengatur karma kecil ini.
Apabila dikemudian hari "kehilangan" masih terjadi, akan saya jadikan sebagai penanda bahwa ada hak orang lain yang telah aku ambil. Hanya Engkau ya Allah yang mampu menciptakan keseimbangan dalam kehidupan ini.
Saturday, December 18, 2010
A d i l
Menurut Al-Quran, segala sendi kehidupan menuntut kita untuk berlaku adil dalam segala hal misalnya berdagang, berbicara, bersaksi, memberi hak orang lain, perselisihan, hutang piutang, memberi hukuman/balasan, dan bahkan harus adil dalam menghadapi orang/kaum yang kita benci (QS Al-Maa’idah 5:8).
Hemat saya, definisi "adil" cukup sederhana saja, yaitu pada saat kita memperlakukan orang lain sesuai porsi yang seimbang dan ketentuan-ketentuannya, kemudian orang lain tersebut mau menerima dengan ridha dan ikhlas ketetapan kita. Kedua belah pihak harus legawa.
Mungkin prakteknya yang agak susah adalah perihal ikhlas-nya. Apabila adil sudah ditegakkan maka kasih, sayang dan ikhlas akan mengikuti. Keadilan yang sebenar-benarnya dan mutlak hanyalah milik Allah semata.
Misalnya, dalam menimpakan hukuman terhadap anak tentu kita harus melihat tingkat kesalahan yang sudah dilanggar. Pelanggaran berat hukumannya tentu tidak sama dengan pelanggaran ringan. Begitu pula sebaliknya dalam pemberian reward. Kalau sama rata tentunya malah tidak adil.
Oleh karena itu adil juga dekat berkaitan dengan hukum, maka tidaklah heran kalau ada banyak hukum Islam yang mengatur tentang hak dan kewajiban terhadap sesama manusia.
Tidak seperti orang lain yang mengagung-agungkan perihal "kasih" dan "cinta" dalam tatanan kehidupan. Di Islam, cinta dan kasih juga hal yang penting tapi bukanlah hal yang substantif. Cinta dan kasih yang berlebihan malah mengandung efek samping yang kurang baik entah pilih kasih, tebang pilih, anak jadi manja, orang jadi merasa terkekang, kita jadi posesif dan sebagainya. Sementara itu tidak ada efek buruk dari suatu keadilan yang hakiki.
Jakarta-Madinah, 18 Desember 2010
Monday, November 01, 2010
Ternyata Masih Ada Produk Bukan Buatan China :)
Ada panci aluminium buatan Egypt (Mesir) seharga 15 Riyal.
Saturday, October 30, 2010
Dari Canon Photo Marathon 2010
Acara perlombaan yang diikuti peserta lebih dari 2000 orang ini adalah acara hunting sekaligus lomba foto terbanyak di Indonesia yang pernah ada, sehingga mendapat penghargaan rekor MURI. Peserta juga datang dari berbagai penjuru nusantara.
Acara hunting dan lomba foto yang kedua ini digelar oleh PT Datascrip pada tanggal 16 Agustus 2010 di Tribeca Central Park Slipi, Jakarta Barat.
Di album ini ada beberapa foto yang sedianya saya ikutkan dalam lomba, tapi karena beberapa pertimbangan saya batalkan.
Thursday, September 02, 2010
Konsep Baiti Jannati
Karena sebagai muslim kita mengenal konsep qolbu mukmin baitullah. Didalam kalbu seorang mukmin terdapat 'rumah' lapang Allah. Ada kelapangan hati kita untuk kembali kepada pencipta. Karena itu Nabi membuat konsep baiti jannati, rumahku adalah surgaku.
Saturday, August 07, 2010
Redenominasi, Niat Baik dan Berpikirlah Positif
Wednesday, July 28, 2010
Liburan Panjang 2010
Bagasi disulap jadi kabin buat tidur balita. Baju-baju ditumpuk dibawah jadi kasurnya.
Apess...Dapat cuti kok kebetulan bareng liburan sekolah. Kursi pesawat penuh, terpaksa jalan darat sejauh kurang lebih 3000 km lebih Jakarta-Bali pp membawa para balita.
Blog :
http://lasem2.multiply.com/journal/item/53/Menyusur_Pulau_Jawa_dan_Bali_Bersama_Para_Balita
Tuesday, July 27, 2010
Menyusur Pulau Jawa dan Bali Bersama Para Balita
Membawa serta anak-anak yang masih balita dalam perjalanan liburan via jalan darat menyusuri sepanjang pantai utara pulau Jawa memang agak riskan. Tadinya saya ragu, mengingat tahun kemarin rencana ke Pangandaran terhenti cuman sampai kota Bandung karena kepenatan anak-anak.
Kalau Nadine (9 thn) saya tidak terlalu khawatir, karena sedari kecil terbiasa jalan-jalan dengan berbagai moda transportasi. Leslie (4 thn) dan Akmal (2 thn) adalah tantangan tersendiri buat saya untuk diikut sertakan. Kedua anak saya terakhir itu mempunyai sifat unik. Leslie suka “berulah” dan cenderung aktif, sementara Akmal masih menyusui dan agak manja dan kolotan. Dan saya sendiri sering tidak tahan mendengar rengekan-rengekan anak kecil yang berkepanjangan.
Singkat kata, dari Tangerang perjalanan terhenti di Pekalongan setelah kami mengalami insiden pengetukan kaca mobil oleh preman Tegal di lampu merah. Saya tidak akan mengambil resiko melewati alas roban pada tengah malam untuk meneruskan perjalanan ke Semarang, kota rencana semula untuk singgah menginap.
Alhamdullilah akhirnya semua lancar, anak-anak juga tidak mengalami kesulitan yang berarti. Setelah semalam di Pekalongan berturut-turut kami menginap di Surabaya, Desa Junggo-Batu, Pronojiwo-Lumajang dan Situbondo.
Rute Surabaya-Malang-Lumajang melewati Semeru selatan adalah napak tilas rute favorit saya waktu kecil, jaman keemasan cengkeh tahun 80-an. Pemandangan sepanjang jalan berkelok-kelok sangatlah indah. Sayang beribu sayang selama dua hari itu awan mendung dan hujan rintik ikut berkolaborasi bersama perjalanan kami menutup indahnya panorama Semeru. Padahal saya ingin menunjukkan ke anak-anak indahnya suasana pedesaan di selatan kaki gunung Semeru.
Semua belum berubah sejak sekitar 10 tahun yang lalu terakhir saya lewat rute ini, hanya jumlah kendaraan saja yang bertambah dan jembatan buatan Belanda yang tua nan indah itu –Gladak Perak- sudah tidak terpakai digantikan jembatan baru yang dibuat oleh pemerintah.
Menginap semalam di desa Oro-oro Ombo, Pronojiwo-Lumajang perjalanan berlanjut lagi. Setelah mampir sebentar di rumah masa kecil Ibu saya di Tekung, Lumajang, perjalanan kami berakhir sementara di Situbondo.
Di Situbondo kami juga sempat jalan lagi ke pantai yang eksotis Tanjung Papuma, kurang lebih 25 kilometer arah selatan kota Jember atau sekitar 100 Km dari Situbondo.
Kira-kira setelah seminggu di Situbondo kami meneruskan petualangan lagi ke Denpasar, Bali. Kali ini rombongan bertambah jadi total sepuluh orang. Etape ini saya tidak terlalu mengkhawatirkan mood anak-anak karena turutnya Akung dan Uti dan para kemenakan istri saya. Tentu mereka akan turut menghandle balita-balita ini.
Selama 5 hari dan 4 malam di Bali touring berlanjut tiap hari, mulai Sanur, GWK, Uluwatu, Kuta, pasar seni Sukawati, Tampak Siring (tidak sempat masuk istana karena harus pakai surat izin tertulis), Kintamani, Denpasar, Kuta lagi, sampai ke perkawinan sepupuku Ferry. Praktis tidak ada yang mengeluh dengan perjalanan menyenangkan ini. Saya lihat trip odometer GPS sudah menunjukkan 1,437 km perjalanan kami. Angka aktualnya adalah lebih dari itu sebab beberapa kali GPS saya matikan karena sudah tahu jalan.
Dari Bali saya sendiri kembali ke Jakarta via udara karena cuti sudah habis. Anak-anak dan rombongan kembali jalan darat ke Situbondo.
Saya tidak menanyakan istri mengenai kondisi terakhir anak-anak, sementara saya sendiri agak meriang ketika berdinas selama 5 hari. Lepas dinas saya balik lagi ke Surabaya guna menyusul mereka, membawa pulang kembali ke Tangerang melewati rute sebelumnya yaitu pantura.
Menginap semalam di Semarang karena saya tidak mau melewatkan malam final piala dunia 2010 di jalanan. Sebelumnya kami kelelahan terjebak macet kecelakaan truk tronton selama dua jam di Pati-Rembang. Keesokannya secara nonstop bergantian dengan istri selama 8 jam lebih kita sampai dengan selamat di Tangerang mengakhiri liburan panjang kami sepanjang jalan raya Pos, jalan Daendels.
Saturday, July 17, 2010
Surat Ijin Berkunjung Ke Istana Tampak Siring
Monday, June 28, 2010
Piala Dunia (1994) dalam kenangan
Monday, May 31, 2010
St. Elmo's Fire
http://en.wikipedia.org/wiki/St._Elmo%27s_fire
Salipan Pesawat
Supaya tidak bertabrakan maka dibuat saling silang ketinggiannya. Misalnya ke Barat ketinggian genap (24000, 26000, 28000 kaki dst), sementara ke Timur ketinggiannya ganjil (25000, 27000, 29000 kaki dst).
Wednesday, May 26, 2010
Kiat Sukses Deniek G. Sukarya dalam Fotografi dan Stok Foto
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Arts & Photography |
| Author: | Deniek G. Sukarya |
Membuka lebih jauh lagi buku ini memang menyuguhkan sisi lain dari lebih dari sekedar fotografi sebagai hobi atau pekerjaan. Disertai dengan gambar-gambar full color yang “hidup” hasil karya Deniek diberbagai kesempatan, seolah kita diajak berpetualangan ke berbagai tempat indah di Nusantara dan belahan lain didunia.
Foto-foto yang ada didalam buku ini dicetak dikertas yang berkualitas dilengkapi dengan data teknis, jenis kamera dan lensa. Walaupun menurut saya data teknisnya masih kurang detail, tapi cukup untuk mengobati rasa penasaran pembaca awam seperti saya. Sebenarnya bukan hanya kemampuan teknis saja yang diperlukan oleh seorang fotografer, tapi juga jiwa seni, perspektif memandang suatu gambar hidup, keberuntungan, dan tentu saja gear yang mumpuni. Dan semua itu ada pada karya foto Deniek G. Sukarya yang khas.
Kiat-kiat praktis memperoleh hasil jepretan yang maksimal juga dituang dibuku ini dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Rahasia teknis khas dan pendekatan pribadi yang menjadi dasar pertimbangan kreatif Deniek dalam menciptakan foto yang memikat terdapat disini ini.
Begitu pula petunjuk informasi mengenai stok foto sangat berguna bagi fotografer yang menggeluti bidang ini.
Tip dan trik ditulis dengan asumsi para pembaca sudah mengerti tentang foto, paling tidak mengerti konsep “The exposure triangle”. Jadi buat yang baru belajar fotografi jangan berharap pelajaran detail dasar-dasar fotografi pada buku ini. Walau begitu ulasan global dasar fotografi disertakan secara minimalis. Pun olah digital secara umum dalam fotografi juga dibahas dalam 16 halaman berikut foto. Sebagai fotografer senior Deniek tidakmengharamkan proses olah digital seperlunya. Menurutnya program pengolah foto semacam Adobe PS adalah alat yang sangat dahsyat yang seharusnya dipergunakan secara bijaksana dan terkontrol.
Ada juga cerita dibalik pengambilan foto-foto pemandangan, yang menurut saya hal seperti ini lebih menarik untuk dibaca daripada analisa teknis suatu foto. Saya juga setuju dengan pendapatnya bahwa komposisi foto yang bagus adalah komposisi yang pas di hati.
Ada satu pertanyaan yang mengganjal saya, kenapa ada salah satu merk kamera yang hampir tidak pernah ditongolkan nama/merknya dalam data foto-foto dalam buku ini?. Hanya disebut SLR/DSLR pada model kamera. Tapi kemudian terjawab pada hal. 65, Dimana Deniek harus mengganti merk tersebut dengan merk lain karena hal teknis. Sebagai seorang professional dibidangnya dia perlu mengikuti kemajuan teknologi dengan mengejar besaran pixel maksimal (full frame) yang menjadi tuntutan pasar. Untuk itu tidak bisa setengah-setengah untuk menggantinya harus menyeluruh. Dan tentu saja barangkali -menurut saya- tuntutan kontrak dengan produsen kamera yang jadi sponsornya.
Buat saya yang awam (baca: amatir) dan hanya menjadikan fotografi sebagai kesenangan, buku ini saya anggap sangat cocok untuk dibaca, dikoleksi dan dinikmati gambar-gambar indah didalamnya baik sebagai referensi atau inspirasi. Terbukti saya kembali bergairah untuk hunting dan berfoto-foto lagi kendati downgrade ke kamera pocket prosumer.
Judul Buku: “Kiat Sukses Deniek G. Sukarya Dalam Fotografi Dan Stok Foto”
Penerbit: PT Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia
Tebal: 168 halaman
Harga: Rp148.000- (Sekarang lagi sale di Gramedia jadi Rp129ribuan)
Tuesday, May 25, 2010
Pelajaran Kesetiaan Pak Habibie
Sabtu (22 Mei 2010) sore dapat tugas mendadak penerbangan charter ke Munchen. Sudah terlintas dibenak saya pasti membawa pulang rombongan keluarga BJ Habibie pulang ke Indonesia, dikabarkan di TV tadi siang bahwa Ibu Ainun Habibie dalam kondisi kritis pasca operasi-operasi melawan kanker selama dua bulan di RS Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Grohadern, Munich. Tak lama kemudian diberitakan bahwa Ibu Hj. Hasri Ainun Habibie wafat pukul 22.35 WIB.
Penjemputan keluarga mantan presiden RI ke-3 atas prakarsa pemerintah yang dikoordinasi oleh wapres. Kami berangkat Minggu malam. Perjalanan ke Munich memakan waktu hampir 13 jam, kami hanya membawa kerabat dekat keluarga Habibie, petugas protokoler, operasi dan teknik penerbangan. Sesampai di bandara Munich kami transit kurang lebih dua jam. Menunggu rombongan dan peti jenazah. Kemudian bertolak, lepas landas lagi menuju bandar udara Halim Perdanakusuma di Jakarta.
Thursday, May 13, 2010
Greeting From Ranu Kumbolo
Selamat pagi Ranu Kumbolo!
Foto-foto ke Semeru (Ranu Kumbolo tahun kemarin Agustus 2009) kelupaan baru diupload ke MP.
Friday, April 30, 2010
Berkenalan Dengan Teeza Dalam Mimpi
Secara fisik saya tidak pernah bertemu dan mengenal almarhum Teeza. Saya hanya mengenal Pak Moekmin, Bapaknya yang menjadi kolega senior saya.
Dalam mimpi semalam saya berada di ruang tunggu terminal bus SAPTCO antarkota di Jeddah, bersama Pak Moekmin. Tujuan kami adalah Mekah.
Di lounge yang sejuk itu sambil memutar-mutar telepon genggamnya, Pak Moekmin seperti biasa ngobrol dan bercanda dengan saya dan seorang teman lagi yang juga akan berangkangkat beribadah umroh ke Masjidil Haram. Tiba-tiba HPnya terlepas dari genggamannya dan berputar di udara sebelum jatuh ke meja.
“Kamu ada di sini to Teez…?” Pak Moekmin seperti berbicara pada seseorang, entah dibagian mana di ruang itu. Pasti Si Teeza!, anaknya yang telah kembali menghadap Allah seminggu lalu.
Saya segera menyambar obrolan itu karena inilah saatnya saya berkenalan dengan Teeza. Beberapa hari yang lalu saya sempat mempunyai perasaan sedih yang nggak karu-karuan melihat Teeza terbaring dalam keadaan kritis di RS Siloam. Kemudian keesokan harinya (Jumat, 23 April 2010) mendapat kabar SMS bahwa Teeza harus meninggalkan kita semua.
“Mas Teeza… kenalkan saya Andre,” Saya memotong pembicaraan Pak Moekmin dengan anaknya. Padahal saya juga nggak tahu berada dimana lawan bicara saya.
“Walaupun saya tidak pernah bertemu dan mengenal Mas Teeza, tapi saya ikut merasa kehilangan dengan kepergian Mas Teeza.” Belakangan ini sejak kejadian kecelakaan yang menimpa Teeza saya sangat bersimpati dengan keluarga Pak Moekmin. Agak sedikit menyesal juga tidak pernah bertatap muka dengan Teeza secara langsung. Padahal dua kali saya mampir kerumahnya tapi tidak pernah berjumpa dengannya.
“Saya minta maaf kalau punya salah sama Mas Teeza…”
“Ohh…inggih Mas…I..nggiih…” tiba-tiba terdengar suara yang menggema memenuhi seisi ruangan itu. Suaranya ramah membalas obrolan imajiner saya, makin lama makin membesar volumenya, sampai membuat saya terjaga. Saya lirik jam dinding, baru pukul 2 dini hari.
“Mimpi apa? Kok mengiggau kayak ngobrol sendiri?” istri saya rupanya kaget mendengar igauan saya barusan. Saya pun bercerita.
Harusnya saya malam ini sudah berniat datang ke rumah Pak Moekmin untuk tahlilan 7 harinya, tapi saya lupa memenuhinya.
Selamat jalan Bro.. Teeza, maaf saya belum sempat berkenalan di Jakarta. Terimakasih sudah mengingatkan kami bahwa dunia adalah fana, sampai bertemu kelak disana.
Catatan :
Teeza Aria Putra (27 thn) adalah salah satu instruktur penerbang di STPI, Curug. Almarhum gugur dalam menjalankan tugasnya dalam sebuah kecelakaan di landasan bandar udara Budiarto (Senin, 19 April 2010). Pesawatnya TB10 menabrak sepeda motor yang masuk ke landasan.
Kliping Kompas :
- Rabu 21 April 2010 "Jalan Pintas Mengundang Maut"
- Sabtu, 24 April 2010 “Teeza Telah Dipanggil Sang Khalik”
Tuesday, March 30, 2010
Artikel Harga Air (NGI) Yang Menarik Saya
Sementara di Irlandia, pajak bumi dan bangunan sudah termasuk pasokan air.
Bahkan dibanding negara tetangga, termasuk China dan Korea harga air kita masih lebih mahal. Sementara PDAM tidak terlampau banyak menangguk untung dan merugi, ada apa PDAM ??
Untuk konservasi? I don’t think so…
Aucland, Selandia Baru, Rp38.600
Perth, Australia, Rp28.000
Brisbane, Australia, Rp39.700
Melbourne, Australia, Rp36.000
Sydney, Australia, Rp42.600
Addis Ababa, Etiopia Rp2.300
Aljir, Aljazair, Rp1.100
Cape Town, Afrika Selatan, Rp11.100
Casablanca, Maroko, Rp9.000
Damaskus, Suriah, Rp700
Dubai, UEA, Rp21.600
Gaborone, Botswana, Rp5.700
Johannesburg, Afrika Selatan, Rp4.800
Kairo, Mesir Rp7.000
Kigali, Rwanda, Rp6.200
Lagos, Nigeria, Rp3.300
Lusaka, Zambia, Rp1.900
Muskat, Oman, Rp15.300
Nairobi, Kenya Rp5.200
Ramallah, Tepi Barat, Rp15.300
Riyadh, Arab Saudi Rp3.000
Tripoli, Libia, Rp0
Tunis, Tunisia, Rp3.700
Windhoek, Namimbia,Rp18.600
Ashgabat, Turkmenistan, Rp0
Bangalore, India, Rp1.700
Beijing, China, Rp5.400
Chongqing, ChinaRp4.100
Hiroshima, Jepang, Rp18.300
Hongkong, China, Rp5.400
Karachi, Pakistan, Rp300
Kolkata, India, Rp0
Kolombo, Srilanka, Rp1.100
Kumamoto, Jepang, Rp27.400
Moskwa, Rusia, Rp8.700
New Delhi, India, Rp800
Odesa, Ukraina, Rp4.400
Sapporo, Jepang, Rp22.800
Seoul, Korea Selatan, Rp5.700
Shanghai, China, Rp3.100
Taipei, Taiwan, Rp3.000
Tallin, Estonia, Rp29.400
Tashkent, Uzbekistan, Rp700
Tokyo, Jepang, Rp19.600
Ulan Bator, Mongolia, Rp2.200
Ulsan, Korea Selatan, Rp8.000
Yerevan, Armenia, Rp4.700
Hanoi, Vietnam, Rp1.600
Ho Chi Minh City, Vietnam, Rp3.600
Jakarta, Indonesia, Rp7.500
Kuala Lumpur, Malaysia, Rp2,500
Manila, Filipina, Rp4.200
Singapura, Rp16.200
Amsterdam, Belanda, Rp90.700
Berlin, Jerman, Rp66.700
Cork, Irlandia, Rp0
Gent, Belgia, Rp62.500
Glasgow, Inggris, Rp66.000
Helsinki, Finlandia, Rp32.200
Kopenhagen, Denmark, Rp90.700
Lisabon, Portugal, Rp15.800
Madrid, Spanyol, Rp16.500
Newcastle, Inggris, Rp38.700
Nice, Prancis, Rp43.800
Roma, Italia, Rp13.100
Buenos Aires, Argentina, Rp1.400
Santiago, Cile, Rp11.500
Sao Paulo, Brasil, Rp17.300
Rio de Janeiro, Brasil, Rp8.900
Lima, Peru, Rp6.600
Guayaquil, Ekuador, Rp5.000
Panama City, Panama, Rp5.300
Caracas, Venezuela, Rp2.100
Acapulco, Meksiko, Rp5.800
Tegucigalpa, Honduras, Rp1.100
Oranjestad, Aruba, Rp44.500
Mexico City, Meksiko, Rp1.700
Guadalajara, Meksiko, Rp3.800
Chihuahua, Meksiko, Rp3.800
Havana, Kuba, Rp500
Nassau, Kep. Bahama, Rp16.700
Tijuana, Meksiko, Rp8.200
Fort Worth, AS, Rp23.400
San Diego, AS, Rp43.600
Phoenix, AS, Rp22.600
Memphis, AS,Rp7.800
Las Vegas, AS, Rp20.200
Philadelphia, AS, Rp32.100
New York City, AS, Rp21.100
Denver, AS, Rp13.900
Detroit, AS, Rp29.800
Calgary, Kanada, Rp34.800
Edmonton, Kanada, Rp30.800
Ottawa, Kanada, Rp23.100
Friday, March 19, 2010
Kehidupan Berbangsa dan Bertetangga
Kemarin pas akan naik monorail di stasiun Chow Kit, tiga orang polisi diraja negeri jiran melakukan razia KTP. Entah feeling apa hari itu saya membawa fotocopy paspor dan ID card dari hotel tempat saya menginap untuk urusan dinas. Mereka cuman menanyakan kartu pengenal saya –yang saya sodori fotocopy tsb dan ID card-, mereka juga menanyakan maksud dan tujuan saya. Setelah sesi tanya jawab singkat itu, saya dipersilahkan melanjutkan perjalanan ke Bukit Bintang, tujuan pelesir saya.
Saya teringat beberapa tahun lalu sebuah email forward-an teman-teman yang menceritakan insiden penangkapan dan pemeriksaan seorang WNI yang ditangkap disekitar KLCC karena tidak membawa tanda pengenal . Ternyata hal itu tidak terjadi kepada saya.
Belum hilang dari ingatan ketika terjadi adu ketegangan masalah klaim budaya, lagu, tari-tarian dll. Bahkan ketika masyarakat sedang panas-panasnya men-sweeping warga Negara Malaysia sekitar 6 bulan lalu, saya malah mendapat perlakuan sebaliknya dari warga serumpun ini. Saya mendapat sambutan hangat disaat gedung kedutaan mereka dilempari telur busuk. Tidak ada rona permusuhan di wajah mereka.
Bukan saya hendak membela negara jiran, tapi faktanya adalah memang kita adalah rakyat suatu negara yang jauh tertinggal dalam hal pembangunan secara fisik dan pembangunan mental masyarakatnya, jauuh… ditinggalkan oleh tetangga dan teman-teman serumpun.
Bahkan saya agak malu ketika didalam suatu forum harian Straits Times ada yang nyeletuk,” Take it easy guys… kita kan masyarakat suatu bangsa yang sedang bergerak menuju peradaban berkelas, sementara mereka (kita-kita) sedang bergulat dengan kehidupan dunia ketiga”. Terkesan sombong sih, agak panas juga kuping kita membacanya (baca kok pake kuping). Tapi itu lah kenyataannya.
Sebagian besar masyarakat kita hidup jauh dibawah garis kemiskinan dengan segala duka nestapa, sebagian besar lain adalah bangsawan dan pesuruh rakyat (baca : aparat negara) yang berkolaborasi dengan taipan-taipan untuk mempertebal kantong dan mempertebal muka. Mempertebal juga kuping dan hati dari sindiran rakyat. Kalo dibahas kebobrokan mereka tidak akan selesai dalam hitungan 65 tahun, hampir seumur republik ini.
Kalo tidak percaya baca aja komentar-komentar di forum-forum kita. Yang memberi komentar kampungan, yang dikomentari juga arogan. Setiap hari isinya hanya adu mulut dan caci-maki, fenomena yang tidak sehat dalam dunia maya dan nyata, akan tetapi sebagian orang bilang inilah demokrasi.
Kembali kepada kehidupan berbangsa dan bertetangga, harus diakui kalau saat ini kita tertinggal jauh dalam berbagai hal. Harus diterima dengan lapang dada. Mereka pun tidak malu mengakui dulu pernah berguru dari tanah Jawa.
(baca juga tulisan agak lama "Klaim Budaya Itu Sekali Lagi” oleh Radhar Panca Dahana, Sastrawan. Saya setuju banget )



























