Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Wednesday, May 26, 2010

Kiat Sukses Deniek G. Sukarya dalam Fotografi dan Stok Foto


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Arts & Photography
Author:Deniek G. Sukarya
Baru-baru ini saya membeli salah satu buku tulisan Deniek Sukarya berjudul “Kiat Sukses Deniek G. Sukarya” cetakan ke-3 (Februari 2010) setelah saya memutuskan untuk pasif atau setengah vakum untuk urusan jepret-menjepret. Disaat saya mungkin sudah agak jenuh dengan kegemaran fotografi ini, saya tertarik pada tulisan di halaman awal, buku ini dipersembahkan untuk pecinta fotografi dengan harapan akan bisa bermanfaat sebagai pemandu dalam menjelajahi dunia fotografi yang sangat menyenangkan, baik sebagai profesi maupun hobi seumur hidup.

Membuka lebih jauh lagi buku ini memang menyuguhkan sisi lain dari lebih dari sekedar fotografi sebagai hobi atau pekerjaan. Disertai dengan gambar-gambar full color yang “hidup” hasil karya Deniek diberbagai kesempatan, seolah kita diajak berpetualangan ke berbagai tempat indah di Nusantara dan belahan lain didunia.

Foto-foto yang ada didalam buku ini dicetak dikertas yang berkualitas dilengkapi dengan data teknis, jenis kamera dan lensa. Walaupun menurut saya data teknisnya masih kurang detail, tapi cukup untuk mengobati rasa penasaran pembaca awam seperti saya. Sebenarnya bukan hanya kemampuan teknis saja yang diperlukan oleh seorang fotografer, tapi juga jiwa seni, perspektif memandang suatu gambar hidup, keberuntungan, dan tentu saja gear yang mumpuni. Dan semua itu ada pada karya foto Deniek G. Sukarya yang khas.

Kiat-kiat praktis memperoleh hasil jepretan yang maksimal juga dituang dibuku ini dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Rahasia teknis khas dan pendekatan pribadi yang menjadi dasar pertimbangan kreatif Deniek dalam menciptakan foto yang memikat terdapat disini ini.
Begitu pula petunjuk informasi mengenai stok foto sangat berguna bagi fotografer yang menggeluti bidang ini.

Tip dan trik ditulis dengan asumsi para pembaca sudah mengerti tentang foto, paling tidak mengerti konsep “The exposure triangle”. Jadi buat yang baru belajar fotografi jangan berharap pelajaran detail dasar-dasar fotografi pada buku ini. Walau begitu ulasan global dasar fotografi disertakan secara minimalis. Pun olah digital secara umum dalam fotografi juga dibahas dalam 16 halaman berikut foto. Sebagai fotografer senior Deniek tidakmengharamkan proses olah digital seperlunya. Menurutnya program pengolah foto semacam Adobe PS adalah alat yang sangat dahsyat yang seharusnya dipergunakan secara bijaksana dan terkontrol.

Ada juga cerita dibalik pengambilan foto-foto pemandangan, yang menurut saya hal seperti ini lebih menarik untuk dibaca daripada analisa teknis suatu foto. Saya juga setuju dengan pendapatnya bahwa komposisi foto yang bagus adalah komposisi yang pas di hati.

Ada satu pertanyaan yang mengganjal saya, kenapa ada salah satu merk kamera yang hampir tidak pernah ditongolkan nama/merknya dalam data foto-foto dalam buku ini?. Hanya disebut SLR/DSLR pada model kamera. Tapi kemudian terjawab pada hal. 65, Dimana Deniek harus mengganti merk tersebut dengan merk lain karena hal teknis. Sebagai seorang professional dibidangnya dia perlu mengikuti kemajuan teknologi dengan mengejar besaran pixel maksimal (full frame) yang menjadi tuntutan pasar. Untuk itu tidak bisa setengah-setengah untuk menggantinya harus menyeluruh. Dan tentu saja barangkali -menurut saya- tuntutan kontrak dengan produsen kamera yang jadi sponsornya.

Buat saya yang awam (baca: amatir) dan hanya menjadikan fotografi sebagai kesenangan, buku ini saya anggap sangat cocok untuk dibaca, dikoleksi dan dinikmati gambar-gambar indah didalamnya baik sebagai referensi atau inspirasi. Terbukti saya kembali bergairah untuk hunting dan berfoto-foto lagi kendati downgrade ke kamera pocket prosumer.

Judul Buku: “Kiat Sukses Deniek G. Sukarya Dalam Fotografi Dan Stok Foto”
Penerbit: PT Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia
Tebal: 168 halaman
Harga: Rp148.000- (Sekarang lagi sale di Gramedia jadi Rp129ribuan)

Friday, November 27, 2009

Hari Raya Penyempurnaan Agama

       Ketika Nabi Muhammad saw wuquf (berada di Arafah) bertepatan dengan hari raya umat Yahudi dan Nasrani. Pada saat itu tibalah wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad saw.: Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan kepada-mu nikmat-Ku untukmu dan telah Kuridhai Islam (penyerahan diri) menjadi agama untukmu (QS 5 : 3). Demikianlah terjemahan menurut Tim Depag.


       Menarik sekali untuk dipahami dan dihayati berkaitan dengan wahyu terakhir yang turun pada saat umat Islam merayakan Idul Adha. Misalnya, arti akmaltu yang diterjemahkan dengan "Kusempurna-kan", dan atmamtu yang diterjemahkan dengan "Ku­cukupkan".


       Saya tidak tahu persis apa perbedaan antara kedua kata tersebut dalam bahasa Indonesia. Tetapi, Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama tapi tidak serupa. Akmaltu diartikan de­ngan "menghimpun banyak hal yang kesemuanya sempurna dalam satu wadah yang utuh." Sedangkan atmamtu diartikan dengan "menghimpun banyak hal yang belum sempurna sehingga menjadi sempurna."


       "Agama" disempurnakan, sedangkan "nikmat" dicukupkan, seperti halnya dalam bahasa terjemah­an diatas. Ini berarti bahwa petunjuk-petunjuk agama yang beraneka ragam itu kesemuanya dan masing-masingnya telah sempurna. Jangan menduga petunjuk shalat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampaikan oleh Al-Quran masih mempunyai kekurangan-kekurangan. Semua telah sem­purna dan dihimpun dalam satu wadah yaitu din atau yang dinamai dengan agama Islam.


"Nikmat" telah dicukupkan. Memang banyak nikmat Tuhan, misalnya, kesehatan, kekayaan, pengetahuan, keturunan, dan sebagainya. Tetapi, ja­ngan menduga bahwa masing-masing telah sempur­na. Kesemuanya ini, walaupun digabungkan, masih akan kurang. Baru sempurna apabila ia dihimpun bersama dengan apa yang turun dari langit berupa petunjuk-petunjuk Ilahi. Petunjuk-petunjuk itulah ketika digabungkan dengan anugerah-anugerah semacam kesehatan, kekayaan dan sebagainya yang menjadikannya nikmat-nikmat yang sempurna. Bila Anda memperoleh kekayaan tanpa agama, maka betapapun banyaknya ia tetap kurang, demikian pula yang lain.

Din (agama) dan dain (utang) adalah dua kata dari akar yang sama, yang mempunyai kaitan makna yang sangat erat. Beragama berarti usaha mensyukuri anugerah-anugerah Tuhan. Dengan kata lain, membayar "utang" dan "budi baik" Tuhan kepada kita. Sayang,  kita tak mampu membayar tuntas dan sempurna, karena terlalu banyaknya anugerah tersebut, sampai-sampai kita tak dapat lagi menghitungnya. Maka untuk menampakkan itikad baik kita kepada-Nya, kita datang menghadap dan menyerahkan segala apa yang kita miliki sambil berkata: "Ya Allah aku tak mampu membayar utangku, karenanya aku datang menyerahkan wajahku kepada-Mu, Aslamtu wajhi ilaika. "
Inilah
Islam, dalam arti penyerahan diri kepada Allah.

Syukurlah, Allah menerima pembayaran yang demikian, dan dinyatakan secara resmi penerimaan tersebut pada wahyu terakhir itu: Telah Kuridhai (Kuterima dengan puas dan senang) Islam (penyerahan dirimu) sebagai agama (pembayaran utang).


Dari Buku Kisah dan Hikmah Kehidupan Lentera Hati, hal. 42
Penulis M. Quraish Shihab. Penerbit Mizan.