Wednesday, December 04, 2013

Stop Bullying!

Beberapa kali saya temui "penindasan" dalam lingkup pekerjaan saya. Bullying, dalam bentuk makian, umpatan kasar, intimidasi bahkan ancaman, biasanya dilakukan dari yang senior kepada yang junior dalam satu grup. Bahkan mungkin sekali terjadi juga di ruang-ruang kantor.

Mengapa pegawai senior atau atasan harus melakukan bullying (verbal) dan intimidasi? Salah satunya adalah karena kekuasaan (power) dan persepsi ancaman. Dianggap orang lain adalah ancaman pribadi atau posisi di perusahaan, kuatir akan menyamai. Sama sekali pola pikir yang primitif di era ini. Saya tidak menemukan alasan lain dari pelaku kecuali alasan pembinaan. Sungguh-sungguh menyedihkan melakukan pola pembinaan dengan cara-cara semacam itu.

Bullying tidak seharusnya terjadi di industri dan lingkungan kerja, seorang pegawai baru datang menjadi mitra kerja kita untuk saling bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan. Harusnya kita dengan senang hati dan tangan terbuka telah mendapat bantuan. Toh kalau dia tidak masuk akan menambah beban buat yang lain. Apabila pegawai baru tersebut tidak lancar dalam mengerjakan tugasnya seyogianya yang berpengalaman memberikan arahan yang sepatutnya. Apabila masih dirasa kurang, bisa dalam bentuk teguran yang elegan demi kemajuan pegawai baru tersebut.

Beberapa tugas pemimpin adalah sebagai fungsi managerial (menyusun rencana, pengendalian operasi, pengarahan, motivator, kontrol dan perbaikan, pengambil keputusan dll). Sudah menjadi tugasnya untuk menjadi penggerak yang baik dan menjadi sumber kreatifitas bagi mitra kerjanya. Sehingga iklim kerja harmonis akan menciptakan sinergi positif. Fungsi pembinaan bisa dilakukan dalam bentuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Negara ini telah terpuruk ratusan tahun dalam sistem feodal, penindasan telah mengakar menjadi kultur yang negatif. Penindasan model ini banyak sekali terjadi terutama di berbagai instansi pendidikan dan aparatur bahkan kearah fisik. Dan sampai sekarangpun negara ini masih terpuruk oleh hal-hal seperti itu.
Mari berpikir positif, stop bullying!

4 Desember 2013

Tuesday, July 16, 2013

Ujian Nasional Nadine

Nadine anak pertama saya baru menyelesaikan jenjang Sekolah Dasar nya di salah satu SD swasta Islam di Tangerang. Bukan bermaksud apa-apa, anak saya juara kelas sejak dari kelas satu sampai kelas enam walaupun tidak masuk bimbingan belajar diluar sekolahnya. Walaupun tidak termasuk jenius banyak prestasi diukir selama SD nya, dia bahkan salah satu dari dua murid yang hafal juz 30 Al Quran pada kelas 3, dan hapal juz 29 dikelas 5. Katam Al Quran. Pernah jadi lulusan terbaik pengoperasian Komputer. Pernah dikirim sekolah untuk seleksi olimpiade Matematika walaupun tidak masuk tahap selanjutnya. Dan sejumlah prestasi lain. Semuanya dengan otodidak tanpa les dan kursus diluar selain ngaji privat dan les menggambar saat playgroup.

Oleh karena itu saya optimis dia bakal tidak susah untuk masuk SMP Negeri. Tapi saat hasil ujian nasional diumumkan betapa kecewanya saya karena nilai NEM-nya hanya 26.50 (untuk 3 mata pelajaran) nilai NEM tertinggi di sekolahnya adalah 28 sekian,  sementara target untuk masuk SMP 1 Tangerang minimal harus 28-29. Benar saja akhirnya anak saya tidak masuk di tiga SMPN yang dipilih dalam seleksi yang hanya didasarkan oleh NEM.

Saya tidak tahu dimana letak kesalahan sistem pendidikan di negara ini. Adakah ‘missing link’ antara kurikulum di sekolah swasta dengan negeri? Atau memang prestasi anak saya sendiri yang kebetulan sedang jeblok saat mengikuti ujian nasional.

Dari beberapa sumber pelaku pendidikan saya dengar cerita tentang kebocoran soal unas  dari kunci jawaban sampai kisi-kisi soal ujian itu sendiri yang disampaikan kepada siswa lewat oknum-oknum. Memang tidak semua, tapi coba anda bayangkan apabila semisal ada orangtua yang mau membeli soal atau kunci demi anaknya bisa masuk sekolah lanjutan ke sekolah yang lebih murah dan baik (sekolah negeri). Bukan ingin anaknya menjadi juara atau bernilai bagus tapi demi biaya yang bisa ditekan (baca: murah) dalam jenjang pendidikan kelanjutannya.

Negara tidak salah memakai sistem NEM yang juga bisa disebut ujian saringan masuk seperti yang dipakai dinegara-negara lain mengingat kursi sekolah negeri juga sangatlah terbatas, rakyat tidak bersalah jika menginginkan biaya  pendidikan yang murah dengan berbagai cara, anak-anak lebih tidak berdosa tidak tahu apa-apa. Terus siapa yang bersalah?


Akhirnya saya mengambil hikmah, saya katakan pada istri bahwa kita tidak perlu menjadikan anak kita sebagai orang yang pintar, menjadikan mereka sebagai teknokrat apalagi birokrat. Cukup bagi saya mendidik mereka menjadi anak-anak yang bisa ngaji, punya akhlak, berkarakter, patuh pada orang tua, berguna buat bangsa dan sesama.
Ayah bangga sama kamu atas pencapaianmu, Nadine!

Wednesday, July 25, 2012

Petunjuk Menyesatkan Tukang Parkir Cimone

Dikasih petunjuk tukang parkir Cimone, "Mas jangan ikutin jalan ini trus belok kiri, verboden...! Mendingan melawan arah minggir pelan-pelan terus belok kanan"

Wednesday, July 04, 2012

Kenapa Pesawat Makin Sering Delay Akhir-akhir Ini?

Buat yang sering bepergian menggunakan jasa transportasi udara, belakangan pasti sering merasakan penundaan keberangkatan (delay) yang semakin sering dan lama. Belum lagi parkir pesawat ditempat parkir yang tidak dilengkapi fasilitas garbarata/belalai gajah (aviobridge). Belum lagi ruang tunggu yang berpindah-pindah. Kebanyakan kejadian ini terjadi di bandara Soekarno-Hatta Jakarta.

Jawabannya adalah, bertambahnya jumlah penumpang dan pesawat seiring murahnya harga tiket tidak diimbangi dengan bertambahnya infrastruktur yang memadai. Terminal boleh dibangun lebih besar untuk mengakomodasi membludaknya penumpang, ditambah saja terminal 3, 4, 5.  Banyak daerah yang giat membangun/merenovasi terminal bandar udara saat ini, sebut saja renovasi bandara Soekarno-Hatta, Ngurah Rai-Denpasar, Kuala Namu-Medan, Ahmad Yani-Semarang tapi sayang pembangunan tidak menambah jumlah landasan pacu. Sementara jumlah pesawat kian banyak. Tempat parkir yang ada garbarata-nya juga tidak ditambah, sehingga banyak pesawat parkir di remote area.

Akibatnya pesawat ngantri memakai landasan pacu untuk lepas landas dan mendarat. Antri untuk lepas landas (takeoff) bahkan bisa mengakibatkan delay sampai 1 jam sementara antri untuk mendarat antara 10-30 menit, pesawat diinstruksikan berputar (holding) diudara. Rentetan delay ini berakibat pada penerbangan selanjutnya begitu seterusnya.

Ada ketidaksamaan cara berpikir antara satu bagian dengan bagian lain di dunia penerbangan. Mungkin disisi airline marketing pertumbuhan jumlah penumpang dan pesawat adalah keuntungan, sementara buat bagian lain adalah kerugian dan masalah. Bagi pengawas lalulintas udara (ATC: Air Traffic Controller) semakin banyak pesawat, mereka makin kerja keras untuk mengatur, bagi para penerbang juga perlu ekstra waspada, awak kabin, ground support dan teknisi juga dituntut untuk lebih cekatan dan teliti karena utilisasi pesawat yang tinggi. Ribuan liter avtur banyak terbuang di udara. Pemerintah harus tanggap kondisi ini!

Monday, June 11, 2012

Beribadah Di Negeri Orang


Saat berada di Negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim seringkali saya susah mencari tempat untuk melakukan sholat. Kalau sudah kepepet waktu ya sedapatnya aja, kadang di pojok taman, lorong-lorong sepi atau di sembunyi dimana saja asal tidak terlihat oleh orang. Takut nanti dikira orang setress.




Pengalaman tak terlupakan adalah saat mencari tempat buat sholat disekitar stasiun kereta api Narita, Tokyo. Karena gak nemu tempat yang sepi tidak terlihat orang saya masuk ke bilik foto box depan peron stasiun. Begitu masuk menutup tirai ancang-ancang mau sholat, mesin foto otomatis itu ngoceh tiada henti dalam bahasa Jepang tentunya. Karena berisik dan takut ditanyain satpam akhirnya saya keluar dengan buru-buru...






Rupanya pendapat saya tidak berlaku oleh Omar, salah seorang teman yang tinggal di Hongkong. Di salah satu terminal subway di Prince Edward. Setelah ambil wudlu di kamar kecil, mencari tempat yang sekiranya tidak mengganggu lalu lalang orang, melihat arah kiblat dari gadgetnya lalu Omar mengeluarkan sajadah yang ternyata selalu dibawa-bawa kemanapun dia pergi. Dengan khusyuk melaksanakan kewajiban sholat dhuhur. Saya mengamati sambil mengambil gambarnya.




Menurut Omar, apa yang dilakukan adalah karena niat menunaikan shalat aja, tidak ada niat lain selain itu. Tidak perlu malu dilihat orang lain yang mungkin akan menganggap hal aneh atau gila. Pada kenyataannya saya perhatikan memang orang yang melihatnya hanya menoleh sebentar kemudian melanjutkan aktifitasnya, tidak mencurigai atau menanyakan pada kami. Selama tidak mengganggu orang, kenapa harus malu.


Hal yang kedua menurut Omar, apa yang telah dilakukan ini mungkin bisa juga dipandang sebagai aktifitas dakwah dan syiar agama. Wahhh…  dapat pelajaran nih dari teman di rantau.

Thanks Bro!

Friday, May 11, 2012

Cerita Duka

Dua hari yang kelabu buat saya, shock juga mendengar musibah beruntun. Yang pertama adalah tragedi demonstrasi terbang Sukhoi Super Jet 100 hari Rabu 9/5/12 yang puing-puingnya baru ketemu hari Kamis, dimana ada dua orang yang saya kenal ikut dalam penerbangan, Capt Aan Husdiana Wiganda mantan manager operasi di perusahaan saya sebelumnya dan Maysarah salah seorang kolega satu perusahaan. Keduanya memang bukan orang-orang yang dekat tapi tetap merasa kehilangan.

Musibah yang kedua adalah adik bungsu dari Ibu mertua (om ipar) kecelakaan lalulintas di Jawa Timur, saat ini masih dalam kondisi koma. Padahal saya sudah menyiapkan rencana untuk mengajaknya tinggal dirumah kami setelah beliau selesai mengurus pensiun dini dari instansinya.

Kehendak manusia memang tidaklah sedahsyat ketentuan Tuhan. Apa yang telah digariskan oleh-Nya sekiranya harus kita renungkan. Semoga Allah memberi yang terbaik buat Om Sugeng dan selamat jalan teman-teman, mudah-mudahan disediakan tempat terbaik oleh Allah, amin…

Friday, April 06, 2012

Makna Lagu "Cublek-cublek Suweng"

Seperti lagu Lir-ilir yang sarat dengan makna filosofis, lagu Cublek-cublek Suweng yang sering dinyanyikan anak-anak di daratan Jawa juga mengandung makna yang dalam seperti digali oleh seorang kolega saya, Agung Webe seorang penulis, pemerhati dan penggali budaya sekaligus trainer pemberdayaan diri. Berikut tulisannya:

Cublak-cublak suweng,suwenge teng gelenter,mambu ketundhung gudhel,pak empo lera-lere,sopo ngguyu ndhelikake,Sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong.

Lirik lagu diatas adalah lagu yang biasa dinyanyikan dalam permainan anak-anak di Jawa pada saat saya masih kecil. Saya masih sangat ingat, saat itu, kira-kira kami ber tujuh. Satu orang dalam posisi telungkup menutup mata, dan kami berenam duduk bersimpuh mengelilingi yang telungkup dengan tangan diatas punggungnya. Salah satu dari kami menyembunyikan batu kerikil yang akan ditebak oleh teman yang telungkup tadi.
Sebuah permainan yang biasa saya mainkan bersama teman-teman pada sore hari atau pada waktu sinar bulan terang menyinari kampung kami.
Sepertinya sederhana dan biasa. Hanya sebuah lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak sebagai pengiring permainan. Namun dalam perjalanan setelah saya menyelami budaya Jawa, terutama pada waktu saya menggali literature serat Wulang Reh(yang akhirnya jadi buku Javanese Wisdom), dan juga Serat Niti Sruti (sedang saya persiapkan jadi sebuah buku baru seri Javanese Wisdom), mau tidak mau saya bersentuhan dengan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan filosofi Jawa.
Memang ada beberapa versi lirik lagu Cublak-cublak Suweng ini. Beberapa daerah di Jawa mungkin mempunyai sedikit perbedaan dalam liriknya. Yang saya tuliskan disini adalah versi saya pada saat saya masih kecil menyanyikannya, dan tentunya saya masih hapal sampai sekarang.
Lagu ini, entah siapa yang menciptakan (saya tidak akan berpolemik siapa yang menciptakan, karena banyak versi tentang hal tersebut), bagi saya siapapun yang menciptakan telah menciptakan sebuah lirik filosofi kehidupan yang sangat dalam dan sarat akan pelajaran kemuliaan.
Saya akan mencoba menyelami arti filosofi dari lagu Cublak-Cublak Suweng ini secara bebas. Artinya saya akan bebas mengartikannya sesuai kesadaran saya saat ini dan sesuai dengan pemahaman saya atas ‘sanepo’ atau lambang yang sering digunakan oleh orang Jawa. Ya orang Jawa banyak menggunakan lambang untuk mengajarkan sesuatu.
Cublak-cublak suweng,Cublak adalah tempat, dan Suweng adalah nama salah satu jenis perhiasan wanita (harta yang sangat berharga). Dalam lirik pertama digambarkan bahwa ‘ada sebuah tempat dimana tempat tersebut menyimpan harta yang sangat berharga
Suwenge teng gelenter,Suwenge adalah nama jenis perhiasan tersebut atau harta yang sangat berharga tersebut. Teng Gelenter adalah berserakan dimana-mana, terdapat dimana-mana, ada disemua arah penjuru.
Mambu ketundhung gudhel,Mambu adalah tercium. Ketundhung adalah dituju. Gudhel adalah sebutan anak Kerbau. Tercium yang kemudian dituju oleh anak Kerbau. Lirik ini menggambarkan adanya sebuah kabar yang didengar oleh orang bodoh atau orang yang tidak tahu (digambarkan sebagai Gudhel) . Orang-orang yang tidak tahu ini mendengar sebuah kabar yang kemudian menuju ke arah kabar tersebut.
Pak empo lera-lere,Pak empo adalah gambaran dari orang-orang bodoh tersebut. Lera-lere adalah tengak-tongok kiri kanan. Lirik ini menggambarkan bahwa orang-orang bodhoh tersebut hanya tengak-tengok kiri-kanan tidak tahu apa-apa.
Sopo ngguyu ndhelikake,Sopo ngguyu adalah siapa yang tertawa. Ndhelikake adalah menyembunyikan. Lirik ini menggambarkan bahwa ada yang menyembunyikan sesuatu dan tetap tertawa. Artinya ia tertawa bahwa tahu ada sesuatu yang disembunyikan.
Sir-sir pong dele kopong,Pong adalah pengulangan kata dari dele kopong. Dele kopong adalah kedelai yang kosong tidak ada isinya. Lirik ini menggambarkan tentang kekosongan jiwa, kekosongan pikiran, kekosongan ilmu, dan juga Orang yang banyak bicara tapi sedikit ilmunya. Sedangkan Sir artinya hati nurani. Sir disini merupakan jawaban dari pertanyaan pertama diatas.
Mari kita rangkai lagu ini secara utuh:
Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter, mambu ketundhung gudhel, pak empo lera-lere, sopo ngguyu ndhelikake, Sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong.
Kemudian mari kita maknai secara utuh agar kita mendapatkan keutuhan dari filosofi lagu ini:
Ada sebuah tempat, dimana tempat tersebut menyimpan harta yang sangat berharga (Cublak-cublak suweng). Namun walaupun ada tempatnya, harta yang sangat berharga tersebut tercecer dimana-mana, terdapat dimana-mana (suwenge teng gelenter).
Disini menjadi sebuah pertanyaan awal: bila ada sebuah tempat dan tempat tersebut menyimpan harta sangat berharga, sedangkan harta itu sendiri tercecer dimana-mana, terdapat dimana-mana. Tempat manakah itu? Tempat yang menyimpan harta namun hartanya terdapat dimana-mana. Lha kan aneh? Hartanya tersimpan disebuah tempat namun harta tersebut juga berada dimana-mana.
Sang penulis lagu ini sedang membeberkan konsep ‘keberlimpahan’ menjadi sebuah lagu sederhana.
Mari kita cermati lebih lanjut. Suwenge teng gelenter yang menggambarkan bahwa harta yang sangat berharga tersebut tercecer dimana-mana, terdapat dimana-mana adalah sebuah gambaran keberlimpahan hidup. Disekeliling kita, kanan kiri atas bawah terdapat harta tersebut. Tentu saja ini sebuah berita yang mengejutkan bagi sebagian orang yang disini digambarkan sebagai ‘Gudhel’: Benarkah keberlimpahan hidup tidak jauh dari kita? Masak sih? Dimana tempatnya sehingga aku bisa mudah mengambilnya?
Berita tersebut memicu orang-orang bodoh, orang-orang berpengetahuan sempit (mambu ketundhung gudhel) untuk bergegas mencarinya. Mereka karena tidak dibekali pengetahuan jiwa maka walaupun banyak yang merasa menemukan harta yang mereka anggap berharga, tetap saja mereka masih merasa kurang dan selalu menengok kiri-kanan (pak empo lera-lere). Kesuksesan, materi, nama besar, jabatan, yang semua itu dianggap keberlimpahan tetap saja mengakibatkan bingung dan tidak puas. Mereka masih ‘pak empo lera-lere’. Pak empo lera-lere juga dapat menggambarkan penderitaan dari orang-orang bodoh yang merasa menemukan keberlimpahan tersebut.
Dibalik semua itu, ada orang-orang yang sudah menemukan keberlimpahan. Mereka yang sudah menemukan harta yang sangat berharga tersebut, melihat orang-orang yang selalu mengejar keberlimpahan palsu, mereka hanya tertawa saja (sopo ngguyu ndhelikake). Mereka tertawa seakan-akan menyembunyikan rahasia: eh bukan itu lho! Itu palsu! Itu hanya ilusi dunia!
Lalu yang terakhir, orang-orang bodoh ini, para Gudhel ini yang kemudian malah berkoar-koar sudah menemukan. Mereka banyak bicara, bahkan mengajarkan cara untuk menemukannya. Padahal ‘dele kopong’, dele kopong yaitu yang banyak bicara adalah orang tak berisi. Dele kopong bila dalam peribahasa Indonesia adalah Tong kosong nyaring bunyinya.
Konsep keberlimpahan hidup dalam lagu Cublak-cublak Suweng ini sangat istimewa. Orang-orang bodoh selalu mencarinya keluar dari dirinya (mambu ketundhung gudhel) sehingga ia tetap merasa bingung dalam hidup (pak empo lera-lere). Sementara orang bijaksana (sopo ngguyu ndhelikake) menyadari bahwa tempat rahasia (cublak) yang merupakan tempat menyimpan harta sangat berharga (suweng) yang sekaligus membuat harta tersebut tersebar dimana-mana (suwenge teng gelenter) ada di dalam ‘Sir‘ (kata pertama dalam kalimat sir sir pong dele kopong), Sir adalah hati nurani manusia!
Di lain daerah (diingatkan oleh sahabat saya, mas Ronggo Sutikno dari Jawa Timur), lirik terakhir ada yang berbunyi demikian:
Sir sir pong udele bodong, sir sir pong udele bodong
Lirik ini juga merupakan sebuah nasehat atau ‘jalan’ istimewa untuk menemukanCublak itu tadi. Bagaimana caranya menemukan tempat bagi harta yang sangat berharga tersebut? Yaitu sir pong udele bodong!
Sir adalah Hati Nurani, sedangkan pong udele bodong adalah sebuah ‘sasmita’ atau gambaran tentang wujud yang tidak memakai apa-apa sehingga udel atau pusarnya kelihatan. Telanjang atau orang yang tidak memakai artibut apa-apa adalah orang sederhana, rendah hati, mengedepankan rasa dan selalu memuliakan orang lain. Yang akan menemukan ‘Cublak’ tersebut adalah orang yang polos, tidak memakai atribut, tidak memakai ego kepemilikan dan kemelekatan, dan itu bukanlah para Gudhel! Ia sekali lagi adalah para pong udele bodong, yaitu orang-orang polos, sederhana, dan bersih hatinya.
Selamat menyelami Cublak-cublak Suweng!

Friday, March 23, 2012

Asik Bisa Nyepi di Bali



Jam 5:37 pagi di Sanur, Bali lagi seru nonton Laliga Spanyol tiba-tiba semua siaran TV kabel dan TV lokal mati semua, kecuali siaran TV dari satelit, lupa harusnya bawa antena sendiri waktu berangkat kemari. Rupanya kalau hari nyepi semua instalasi publik harus dimatikan, tak terkecuali fasilitas hotel dan bandara internasional Ngurah Rai yang biasanya buka 24 jam. Ditutup buat semua penerbangan.

Semua turis bisa merasakan sensasi unik dan suasana magis diseluruh antero pulau. Ritual yang hanya ada satu-satunya didunia. Semua kegiatan berhenti mulai dari jam 6:00 pagi sampai jam 6:00 pagi keesokan hari.  Beginilah cara umat Hindu mengawali hari ditahun baru saka, perlambang dari kontemplasi perjalanan setahun kemarin, merenungi semua kekeliruan, memaafkan kemua kesalahan, mengekang hawa nafsu, menyucikan diri dengan berpuasa dan meditasi untuk memulai perjalanan  masa kedepan yang tentunya masih banyak dipenuhi rintangan.

Harusnya kita bisa mencontoh umat Hindu dalam merayakan tahun baru bukan dengan pesta pora berlebihan dan kegembiraan yang gak jelas.
Dalam perayaan malam sebelum nyepi saya sempat larut dalam festival ogoh-ogoh di Semawang Sanur. Perempatan Semawang penuh dengan turis mancanegara yang ingin menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh simbol raksasa jahat yang pada akhirnya dibakar, dienyahkan dari lingkungan sekitar.

Yang saya salut adalah anak-anak muda Bali benar-benar berkomitmen dalam memegang teguh ajaran agama dan budaya Hindu. Walaupun mereka menggenggam iphone dan berdandan modis dalam kesehariannya tapi tetap mau latihan gamelan dan tari Bali.


Sore hari (22/03/12) menjelang hari Nyepi dua anak Bali bercengkerama didepan Ogoh-ogoh, Lokasi Semawang, Sanur, Denpasar.

Tuesday, December 27, 2011

Trans Studio Waktu Liburan (Peak Season)

Datang jauh-jauh dari Malang sepupu saya dan dua anak remajanya ngajak main ke Trans Studio di Bandung .  Setelah menginap semalam di Setiabudi pagi-pagi saya antar mereka ke Bandung Super Mall lokasi tempat hiburan tersebut, saya nyusul bersama anak-anak siangnya. Tiket Trans Studio dimusim liburan naik menjadi Rp200ribu kalau non liburan Rp150ribu, semua usia dari bayi sampai lansia wajib beli tiket yang berwujud kartu debet yang berlaku sebagai uang elektronik. Rombongan keluarga saya terdiri dari dua dewasa dan tiga anak sudah sejuta perak buat masuk aja. Kesan pertama saya waktu beli tiket, tempat hiburan ini kok komersial banget ya…!
Pertama masuk semua tas diperiksa yang dicari bukan security atau dangerous item seperti pemeriksaan keamanan di mall-mall atau bandara, tapi makanan dan minuman. Oke-lah kalau kita disuruh beli makan dan minum didalam tapi harganya jangan mahal-mahal dong, udah gitu di-monopoli oleh brand tertentu. Harga-harga souvenir didalam juga nggak murah. Kaos kaki balita buat masuk arena permainan tertentu (wajib) yang di Timezone cuman Rp3ribu disini dijual Rp20ribu.
Gak banyak permainan yang bisa dinikmati oleh anak-anak saya (usia 10, 6 dan 4 tahun) semua wahana dibatasi oleh tinggi badan rata-rata untuk 130cm keatas. Selama total hampir enam jam didalam kawasan hiburan ini praktis anak-anak hanya bermain di tiga wahana  dari total 20 wahana: Dunia Anak, Pirate Ship (arena main anak-anak seperti kebanyakan di mall-mall tetapi dengan arena yang lebih besar) dan Science Center. Ditambah satu wahana lagi bagi anak saya yang berusia 10 tahun yaitu Dragon Rider setelah ngantri hampir satu jam.  Saya sendiri gak naik wahana apapun karena males lihat antriannya.
Beli makan juga harus ngantri lebih dari setengah jam itupun pake berantem sama pengunjung yang belum pernah dapat training ‘Budaya Antri’. Intinya cape deh!
Diantara antrian ada jalur khusus non antri yang dinamakan VIP Access, untuk mendapatkan privilege itu pengunjung harus rela keluar kocek lagi sebesar tiket masuk yaitu Rp200ribu. Sempat ngobrol dengan sepasang pengunjung dari kepulauan Riau yang kesal dengan sistem ini yang disebutnya diskriminasi. Saya hanya berkilah,”Inilah potret negara kita Pak, siapa yang bisa bayar dapat posisi!”
Beliau merasa mendapat informasi yang keliru yaitu bayar Rp150-200rb bisa naik semua wahana sepuasnya. Kenyataannya dia cuman naik satu wahana setelah berjuang antri lebih 60 menit. Sungguh mengecewakan kami yang jauh-jauh datang dari luar pulau, curhatnya.
Buat balita tempat hiburan ini nggak seimbang dengan harga tiketnya, sementara buat lansia kurang cocok.
Kesan pertama saya tempat hiburan ini komersial banget ternyata betul banget, paling tidak pada saat-saat musim liburan seperti sekarang. Tempat hiburan yang tidak berpihak pada rakyat dan hanya memikirkan keuntungan lebih. Beberapa pengunjung yang ngobrol dengan saya juga mengeluhkan hal yang sama. Saya tanyakan kepada salah seorang pegawai yang bertugas kenapa bisa seperti ini, jawabannya karena biaya operasional yang tinggi.
Kayaknya pengelola Trans Studio harus pergi ke Genting Highland yang bayar cuman 60 ringgit sepuasnya, Sentosa Island atau kalau merujuk pada tempat hiburan yang pro rakyat anda harus datang ke Jatim Park Batu dengan Secret Zoo-nya atau ke Taman Safari bahkan Dunia Fantasi Ancol.
Terakhir saya katakan kepada pegawai tersebut,”Dua kali saya berkunjung ke Disneyland dan saya selalu ingin pergi kesana lagi, buat Trans Studio cukup sekali ini aja kemari.”

Friday, September 30, 2011

Facebook Telah Memata-matai Pemakainya?


Menurut Dailymail baru-baru ini seorang blogger sekaligus programmer dari Australia,  Nik Cubrilovic, menemukan bahwa Facebook telah melacak 750 juta penggunanya atas situs-situs yang dikunjungi pasca mengunjungi Facebook. Misalnya anda setelah login di FB kemudian mengunjungi situs-situs dunia maya yang lain, facebook telah melacak dan menyimpan datanya. Hebatnya lagi walaupun anda telah logout dari FB.

Pihak FB telah mengakui, dikatakannya hal itu adalah suatu “kesalahan”, dan telah memperbaikinya. Mereka berterimakasih kepada  Cubrilovic yang telah memberitahu kelemahan ini.

"Kami menempatkan cookie di komputer pengguna," kata seorang juru bicara Facebook, mereka mengaku bahwa cookies itu mengirim data kembali ke Facebook tentang alamat situs yang telah mereka kunjungi, bahkan saat logout. Mereka berdalih ini semata-mata untuk alasan keamanan.

Fuiiihh….. ternyata privasi kita diobok-obok ya? Ini bukan yang pertama lho, masih menurut dailymail diawal tahun ini seorang peneliti Belanda juga menemukan bahwa FB telah mengumpulkan data dari orang yang telah masuk ke facebook walaupun belum terdaftar. Canggih bener…!
Berurusan dengan Yahudi membuat saya sedikit punya rasa perasaan yang gimana gitu. Saya coba flashback kebelakang waktu pertama kali daftar ke FB. Mereka mensyaratkan data asli untuk pendaftaran termasuk nama, umur, nomer telepon dan lain-lain. Saya menuruti.

Kemudian dalam perkembangannya Facebook menjadi situs jaringan sosial yang terbesar di jagat, tapi Zuckerberg enggan menjualnya, padahal mungkin nilainya triliunan rupiah. Dalam perjalanan Facebook juga punya power untuk menggerakkan masa didunia maya untuk urusan politik dan sosial. Tak terkecuali Obama juga memanfaatkan FB untuk kampanye dan penggalangan masa. Rasa-rasanya Pak Bibit, Pak Chandra, Prita, rakyat Malaysia dengan gerakan ‘Bersih 2.0’, rakyat timur tengah juga harus berterimakasih kepada FB.  Ratusan juta orang seakan terhipnotis oleh FB.
Untuk hal teknisnya, kita dibuat mudah untuk login di FB bahkan secara bersamaan kita bisa login di HP, komputer, tablet, lewat SMS, ada banyak software pihak ketiga yang bisa ditanam digadget demi mempermudah akses FB ini.

Pertanyaannya kemudian adalah : Apakah ada rencana besar dibalik hanya mengembangkan situs jejaring sosial ini? Tanyakan sama Mark Zuckerberg sana!
Tetep ambil positifnya. Mungkin FB bekerjasama dengan FBI untuk melacak jaringan teroris, atau membantu LSM untuk melacak orang-orang yang sering mengunjungi situs porno dan ilegal. Mungkin juga untuk mengambil keuntungan dari sisi komersialnya : iklan, game, belanja online. 
Namun saya kok belum yakin.


Saturday, August 06, 2011

Hati-hati! Dermovate Cream Bukanlah Krim Pemutih Kulit

Tiga tahun yang lalu saya direkomendasi seorang rekan (bukan dokter atau pekerja medis) untuk memakai obat salep buat kulit bermerk Dermovate Cream buatan GlaxoSmithKline perusahaan farmasi dari Inggris. Obat tersebut memang nggak beredar di Indonesia, saya beli ketika berada di Arab Saudi, harganya cukup murah SAR10 atau sekitar Rp24,000.

Saran teman itu datang setelah saya ceritakan keluhan saya. Beberapa tahun belakangan setelah makan makanan laut terutama udang dan kerang, badan saya sering mengalami gatal-gatal. Dikemudian hari kondisi alergi  juga  muncul saat makan ayam potong broiler. Begitu beli obat ini, tanpa membaca kandungan dan petunjuk pemakaian langsung saja saya pakai obat tersebut, walaupun tidak menyembuhkan alergi makanan seafood itu sendiri namun salep ini mujarab menyembuhkan iritasi luar pada kulit yang disebabkan  alergi tersebut.


Tidak lama ini, istri saya memesan Dermovate Cream tersebut tatkala saya berada di Jeddah. Dia bercerita, banyak yang memakai salep itu untuk memutihkan kulit! Saya lihat di lapak-lapak onlinepun banyak juga yang menjual obat ini sebagai pemutih kulit. Saya bingung juga, karena nggak pernah membaca kertas petunjuk pemakaian yang disertakan didalam kemasannya. Asal pakai saja kalau lagi ada gangguan dikulit dan gatalpun berkurang.


Untuk memastikan untuk apa sih Dermovate Cream sebenarnya? saya browsing internet, ternyata Dermovate Cream bukanlah krim untuk pemutih kulit, kandungan Clobetasol propionate yang terdapat didalamnya adalah kortikosteroid yang digunakan untuk mengobati berbagai gangguan kulit termasuk eksim dan psoriasis  (sumber Wikipedia).

Diantara efek samping penggunaannya adalah penipisan kulit dan perubahan pigmentasi pada kulit. Inilah “manfaat” yang dikatakan bisa memutihkan kulit, ternyata adalah efek samping dari penggunaan salep pengurang peradangan pada kulit tersebut. Apalagi dari namanya yang ada kata-kata “Cream” bisa dipakai sebagai propaganda dagang. Selain itu masih banyak efek sampingnya yang bisa dibaca pada tautan dibawah yang saya sertakan.

Disinilah kelemahan masyarakat termasuk saya, selalu cepat terpengaruh dan percaya kepada orang/sumber lain tanpa melakukan crosscheck terlebih dahulu. Andai saja Dermovate cream yang saya asumsikan salep penghilang gatal ternyata adalah krim pemutih kulit apa jadinya alergi saya?

Foto : Dermovate Cream dari salah satu lapak online.

Sumber-sumber :

Tuesday, June 28, 2011

Debat Kusir Siami

Saya sodorkan majalah Tempo edisi 20-26 Juni 2011 halaman 32 yang berjudul “Siami Bertahan di Kejujuran” kepada istri saya. Sedari kemarin sepertinya dia ikut-ikutan  warga Gadel yang mengusir Siami dari rumahnya sendiri karena melaporkan guru dan wali kelas anaknya yang diduga membuat skenario contek menyontek dengan melibatkan anaknya Alif sebagai joki dalam ujian nasional SD bulan Mei kemarin.

Kamipun berdebat kusir. Saya dipihak Ibu Siami sementara istriku entah dipihak siapa, yang jelas bukan dipihak ibu “kejujuran” itu. Saya jelas-jelas menyalahkan guru dan wali kelas sekolah yang paling bertanggungjawab pada peristiwa itu. Setelah beradu argumen bla…bla…bla…belakangan istri saya menuduh sistem pendidikan nasional-lah yang bersalah dalam peristiwa tersebut. Hal itu sering dan lumrah terjadi di berbagai daerah lain cuman tidak terekspos saja, begitu kilahnya. Saya percaya karena pasti sumber ceritanya berasal dari kakak-kakak dan ipar-iparnya yang kesemuanya adalah guru.

Kalau anda baca ceritanya tentu akan sependapat dengan saya bahwa gurunya lah yang paling bersalah dalam kekacauan ini. Pantaslah kalau mereka menerima sanksi dari walikota Surabaya dengan  dicopot jabatan fungsionalnya, walaupun pekerjaan guru itu mulia kalau melanggar tetap harus dihukum. Saya memang nggak bersih-bersih amat sih selama mengenyam bangku sekolah, maksudnya contek-mencontek diantara teman juga tidak jarang terjadi. Tapi kalo cerita tentang mencontek masal yang di otaki oleh oknum guru ala SDN Gadel II ini sepertinya baru kali ini saya mendengarnya. Debat kami makin runcing…

Diakhir diskusi saya mengulang lagi tulisan dalam artikel majalah itu kalau guru tersebut sudah menghinakan dirinya sendiri dengan mencitrakan sekolah yang dipimpinnya supaya lulus ujian semuanya. Kejujuran sebagai salah satu saka guru keberadaban sudah hilang dan diperkosa oleh kepalsuan.
Istri saya membalas janganlah bersalah sangka dulu seperti kamu dulu mengira SBY adalah pemimpin yang berhasil. What's the connection, pikir saya. Tetapi kemudian saya nyambung, bahwasannya dulu saya sering membela kebijaksanaan-kebijaksanaan beliau tapi pada akhirnya sekarang sering mengkritik habis-habisan. Tetep gak nyambung ya?

Lama terpekur saya dalam semua kata-katanya kenapa kali ini istri saya tidak sepakat dengan saya mengenai amar ma'ruf nahi mungkar. Biasanya dia paling getol menyumpah serapahi oknum-oknum dengan profesi polisi, politisi, eksekutif, yudikatif yang melakukan KKN. Begitu tiba kejadian ini pada profesi guru mengapa lain cerita?

Saya ingat-ingat lagi ketika dia bercerita bahwa kejadian seperti ini jamak terjadi di daerah lain. Sudah biasa, banyak cerita, hampir banyak guru, saya mengingat-ingat lagi… ahaa! Eureka. Saya teringat seringkali dia bercerita bahwa ayahnya yang kebetulan juga mertua saya adalah kepala sekolah sekaligus guru seringkali membiarkan atau pura-pura  tidak melihat saat anak didiknya lirak-lirik jawaban bangku sebelah saat ujian. Ya itulah jawabannya  kenapa kami tidak sepaham. Saya menyalahkan oknum guru dan dia membela ayahnya. Padahal ayah dan kakakku adalah guru juga. Sayapun mesam-mesem sendiri.
foto: SURYA/Faiq Nuraini

Kliping :
Kompas, Ibu Siami, Si Jujur yang Malah Ajur
Tempo, Nasib Ibu Siami Jujur Malah Hancur

Tuesday, May 17, 2011

Haruskah Menjebol Penjara?

Ipad saya tidak di ‘jailbreak’ karena jailbreak termasuk pembajakan piranti lunak, dan pembajakan adalah pencurian. Demikian asumsi awal saya menggunakan produk Apple beserta perusahaan afiliasinya, I-tune Store.

Tanggal 12 Mei 2011 saya dapat telepon dari bank penerbit kartu kredit saya bahwa saya telah berbelanja online di I-tune Store senilai USD99.99 (seratus dollar US kurang satu sen). Saya kaget dan menyangkalnya, kemudian mereka menyarankan agar saya membuat surat sanggahan atas transaksi tersebut. Keesokan harinya I-tune store mengirim tanda terima/receipt atas pembelian virtual coin sejumlah 275,000 (duaratus tujuhpuluh lima ribu koin) di game bernama Frisbee Forever, game gratisan yang memang saya download dan dimainkan oleh anak-anak saya yang beusia 3 sampai 10 tahun. Saya segera mengirimkan surat sanggahan ke bank penerbit kartu kredit sekaligus surat sanggahan ke I-tune Store.

Sedikit beranalisa. Anak-anak saya hampir dipastikan tidak mengetahui password saya di I-tune Store, jadi mereka tidak mungkin melakukan transaksi itu. Kemungkinan paling besar adalah saya yang melakukan transaksi tersebut walaupun saya tidak tahu dan tidak ingat kapan saya memasukkan password I-tune Store dalam rangka ber-transaksi online. Saya tidak suka bermain game online bahkan tidak pernah sekalipun bermain game online yang banyak ditawarkan di Facebook, situs yang kerap saya kunjungi. Program-program yang saya download di I-tune Store ter-install di Ipad adalah 100% program-program yang gratisan. Jadi mustahil saya membeli virtual coins di game itu, buat apaa…?
Kesimpulannya, transaksi itu saya anggap transaksi yang tidak disengaja atau transaksi yang tidak saya kehendaki.

Seperti telah kita ketahui bahwa membuat akun di I-tune Store selain memasukkan data diri dan alamat yang benar juga memerlukan nomer kartu kredit yang masih berlaku. Setiap kali download software walaupun gratis kita tetap memasukkan password akun kita, sehingga sangking terlalu seringnya memasukkan password I-tune Store mungkin saya tidak menyadari bahwa ternyata saya melakukan suatu transaksi belanja. Sehingga saya merasa sedikit terhipnotis dengan cara-cara ini.

Pengalaman rekan-rekan yang tinggal di negara paman Sam, setiap berbelanja di toko-toko dan supermarket, barang yang sudah dibeli berhak dikembalikan ke tempat dimana mereka membeli biasanya dalam waktu 7 hari bahkan tanpa alasan sekalipun. K-mart, Wall Mart, Costco, dan banyak toko-toko retail disana memberikan kebijaksanaan “A week moneyback guarantee”. Saya tidak tahu apakah I-tune Store mempunyai policy seperti ini?

Kalaupun uang saya tidak bisa dikembalikan saya ikhlaskan buat nyumbang mereka, hanya saja akan sedikit merubah asumsi saya semula menjadi, "Bila anda tidak melakukan pencurian (pembajakan) maka bersiap-siaplah untuk diambil"

Hirarki Komunikasi Saya dan (Teknologi) Blackberry

Beberapa teman mendesak saya agar memiliki Blackberry yang pastinya untuk tujuan komunikasi. Kalau dulu saya beralasan harganya terlampau mahal, kini dengan semakin membanjirnya produk BB di pasar selular saya tidak bisa lagi memakai alasan itu. Kalau saya telisik lagi alasannya mengapa enggan  memakai BB adalah : saya tidak siap dengan teknologi yang dimiliki oleh gadget tersebut tentunya dengan dukungan server RIM. Memang terdengar agak aneh buat orang lain.

Hari gini terasa ganjil kalo ada yang gak pake telepon genggam sejuta umat ini. Apalagi beberapa teman berpromosi bahwa BB adalah the most powerfull cellular ever, ada lagi yang bilang the latest art-of-the state of gadget. Pokoknya BB lain dengan HP lainnya, terutama untuk hal berkomunikasi.
Walaupun sebenarnya saya ingin sekali mencicipi kecanggihan BB ini tapi sayang sekali, istri saya yang akan dijadikan percobaan menggunakan BB tidak pernah mau memakainya. Entah apa alasannya. Sementara saya sendiri belum merasa perlu memakainya untuk keperluan komunikasi, sekali lagi komunikasi. Ya karena kehebatan BB ada pada teknologi komunikasi diantaranya adalah push email dan BB messenger.
Menurut pendapat saya, ada hirarki dalam kita berkomunikasi dua arah;
  1. Komunikasi dua arah dengan sifat berita yang sangat penting.
    Ada berita-berita penting yang harus segera disampaikan secara cepat kepada penerima berita. Biasanya berita darurat, kematian, sakit, kecelakaan, bencana, dll. Kalau lokasinya dekat maka saya melakukannya secara face to face. Kalau jauh saya memakai telepon untuk menyampaikan berita jenis ini. Saya tidak memikirkan lagi biaya bertelepon untuk hal-hal bersifat emergency. Misalnya : Memberi tahu pihak bank untuk memblokir kartu kredit atau HP yang hilang meskipun harus memakai saluran langsung internasional. Istri saya tidak segan-segan menghubungi HP saya meskipun roaming/SLI jika ada berita-berita kematian/sakit keras keluarga atau rumah kebanjiran. Oleh karena itu telepon rumah tidak saya matikan, telepon rumah sangat penting. Banyak orang memutus saluran telepon rumahnya hanya karena telepon genggam sudah menjamur.
    Untuk menghemat pulsa kalau sedang berada di negeri orang biasanya berita penting saya sampaikan via wartel atau telepon umum kartu yang rata-rata sudah menggunakan VOIP, Voice Over Internet Protocol.
  2. Komunikasi dua atau satu arah dengan berita agak penting.Kalau dulu ada telegram untuk menyampaikan berita jenis ini, sekarang ada SMS. Anak sakit, berita perkawinan, ucapan selamat, kabar gembira, jatuh tempo bayar ini-itu cukup SMS saja. Syukur-syukur yang menerima SMS mengucapkan terimakasih atau memberitahu bahwa berita sudah diterima.
  3. Komunikasi dua atau satu arah dengan isi berita agak panjang bersifat agak penting atau  tidak penting-penting amat.
    Dulu ada surat dan kartupos sekarang bisa lewat surat elektronik. Kalau email yang saya kirim sifatnya agak penting, maka  akan saya ikuti dengan mengirim SMS memberitahu supaya si penerima segera membuka email inbox-nya.  Atau bisa juga saya beritahu via IM kalau ybs sedang OL. Untuk hal email saya memperlakukannya mirip surat konvensional. Saya cek inboks secara berkala sortir, baca dan balas yang perlu. Saya juga memakai filter spam dan junk mail jadi mohon maaf kalau ada email yang tidak sampai karena terfilter oleh mereka.
    Karena memperlakukan email secara konvensional itu maka saya memakai fitur pull email (bukan push email) dari HP dan PC saya.
  4. Komunikasi Instant Messenger (IM)
    Moda baru komunikasi digital ini perlu kita sikapi dalam pemakaiannya. Dulu jaman MIRC atau ICQ jikalau kita online berarti kita berada didepan komputer,  artinya kita siap menerima dan membalas pesan yang masuk, makanya dinamai Instant Messenger. Kalo kita tidak OL berarti jangan berharap dibalas secara instan. Itulah mengapa di YM ada ikon-ikon yang menandakan apakah kita sibuk, siap, away, OL tapi pergi dan sebagainya. Selain itu sifat pembicaraan di IM hanyalah chit-chat/obrolan ringan semata (jadi ingat ngobrol di ICQ jaman dulu yang disertai ASL? please
    ).
    Komitmen saya di IM, kalau saya OL di Yahoo Messenger berarti saya siap ngobrol ringan dengan kawan-kawan. Artinya saya ada waktu luang untuk sekedar chatting. Sekali lagi, hanya obrolan ringan saja lho. Sehingga kalo ada koneksi yang tersendat atau diluar jangkauan tidak perlu diambil hati. Mau cuman Buzz!, Ding!, ngirim emoticon, say hi, becanda ringan, tegursapa, basabasi, disinilah tempatnya. Tapi ingat-ingat kalo sedang bekerja ya jangan chatting ya, paling tidak pasanglah status sibuk atau away, supaya saya juga tidak mengganggu anda.
Dengan mengklasifikasi jenis-jenis komunikasi sedemikian rupa saya jadi tidak memerlukan fitur-fitur BB. Justru dengan teknologi push email akan menjadikan email setara dengan SMS malah membuat saya bingung. Sebenernya sih kecanggihan  teknologi adalah mempermudah manusia, akan tetapi kita sering salah kaprah menggunakannya. 

Dengan adanya push email malah keliru dipakai mengirim berita dengan klasifikasi seperti SMS atau IM. Gak jarang mereka mengirim email dengan isi seperti : Ya Boss, Sip, Ok, Ouwhh begitu!, Baik Pak, dan email-email super singkat dan gak penting sejenis itu. Terutama di milist, jejaring sosial yang integrasi dengan email atau notifikasinya dikirim ke inbox email sehingga menjadikan chatting via email. Maaf, hal ini kebanyakan terjadi pada para pengguna BB yang tidak mengenal etika ber-email dan dunia internet sebelumnya. Sampai-sampai ada yang mengira inbox di facebook adalah kotak surat email mereka.
Sebaliknya, banyak nomer telepon tak dikenal mengirim via SMS berisi penawaran KTA/KPR, pinjaman bunga lunak, penawaran produk, promosi-promosi menyebalkan.


Begitu pula salah kaprah menyikapi Instant Messenger. Gak pagi, gak malam diset online terus menerus, tapi giliran disapa dijawabnya besok. Beberapa kali saya melihat orang sibuk dengan gadgetnya sendiri tanpa mengawasi anaknya, atau ketawa-ketiwi disamping pasangannya dalam sebuah meja makan direstoran tapi dengan dunianya masing-masing. Bukan saya sirik, tapi ini akibat salah menyikapi kecanggihan teknologi dan saya belum siap kearah sana.

Ada yang berdalih lebih murah memakai BB untuk berkomunikasi karena basisnya adalah packet data. Jawaban saya bisa ya bisa tidak !, murah untuk pembelian pulsa data tapi dibarter dengan kehidupan sehari-hari anda di dunia nyata, saya tidak mau seperti itu. Bagi saya waktu 24 jam cukup 10-20% adalah waktu saya buat dunia maya sisanya saya lebih suka bermain dengan anak saya, hobby olahraga, ngobrol dengan keluarga, makan, jalan-jalan, tidur, mandi, ibadah  tanpa diganggu dengan suara/panggilan tang-ting-tung alat yang memperbudak saya. Karena itu sampai sekarang kalau ketinggalan HP dirumah saya tidak merasa dunia akan kiamat…

Tips :
  • Bertelponlah untuk berita yang super penting.
  • Belajar mengklasifikasi sifat berita yang disampaikan. Misalnya: Jemput saya di stasiun Gambir tgl sekian jam sekian. Dikirim via telpon atau SMS.
  • Set status IM anda sesuai dengan kondisi supaya orang lain mengerti juga kondisi anda.
  • Sikapi pemakaian gadget/HP anda dengan bijaksana mis. Matikan atau set silent saat berada di meja makan, istirahat sedang beribadah. Banyak orang tidak menyukai hal seperti anda berbicara pada seseorang dengan muka tidak menghadap ke wajah lawan bicara, melainkan menghadap ke ponsel.

Wednesday, April 20, 2011

Kesan Seorang Wisatawan

Dua minggu lalu aku berkenalan dengan Abdullah bin Salman di atas pesawat dari Jeddah menuju Jakarta. Anak muda enerjik ini berangkat liburan ke Indonesia. Entah mungkin terkesan dengan cerita orang atau jatuh cinta pada kunjungan yang pertama, liburannya ini adalah kunjungan keduanya ke Indonesia. Dia yakinkan orang tua dan saudaranya untuk ikut serta. Abdullah sempat mengenyam pendidikan penerbangan di Kuala Lumpur dan sekarang berprofesi sebagai salah satu Air Traffic Controller atau pengatur lalu lintas udara di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, Arab Saudi.

Diatas pesawat dengan antusias dia sudah merencanakan liburannya selama dua minggu di Bandung, dan sekitarnya. Dia tunjukkan dari gadgetnya daftar itinerary dan situs-situs berbahasa arab obyek wisata yang akan dituju selama disana. Sekilas saya lihat ada Taman Cibodas, Tangkuban Perahu, Taman safari, taman buah Mekarsari dan Bandung. Pasti bakal padat acaranya. Saya sempat tawari untuk berkeliling Jakarta di hari kedatangan itu, tapi rupanya dia langsung menuju puncak sesuai rencananya.

Dua minggu berselang, saya mendapat tugas berangkat lagi ke Jeddah. Di ruang tunggu penumpang kami disapa oleh Abdullah yang juga akan pulang  dengan pesawat yang sama. Wow, kebetulan yang luar biasa.

Kami kembali ngobrol di perjalanan menuju Jeddah. Saya tanyakan tentang liburannya, sepertinya acaranya sukses. Kemudian salah seorang teman menanyakan bagaimana kesan-kesannya selama di Indonesia. Tanpa basa-basi Abdulah menjawab, “Saya suka alamnya tapi tidak suka dengan system birokrasi /administrasi dan kemacetannya”. Abdullah tidak cerita detail tentang kekecewaannya, tapi saya berasumsi pasti tentang pungli, korupsi dan semacamnya.

Pengalamanku saat ditanya orang luar,”How do you like my country?”
Seringkali saya menyenangkan orang tersebut dengan menjawab : No, I don’t like it … sengaja saya berhenti sejenak melihat reaksi mukanya. Kemudian meneruskan : But I love it! dan kamipun tertawa. Padahal  dalam hati apa bagusnya sih negara ini tanpa pohon kelapa, pohon pisang, gunung-gunung dan pantai pasir putih? Yang ada hanya menonjolkan infrastruktur  dan sistem keteraturan. Justru ketertiban dan keteraturan inilah yang bisa dipakai sebagai nilai jual negara lain.

Kembali ke Abdullah, berbeda dengan anak muda arab yang lain, Abdullah anak muda yang santun dan jujur. Benar, walaupun sebentar mengenal dia tetapi aku bisa menilainya. Kesannya tentang Indonesia yang diungkapkan tanpa basa-basi memang begitu adanya, dan aku sangat setuju dengannya. Kalau kita tidak berubah, wisatawan-wisatawan seperti dia cukup sekali  dua kali saja datang ke Indonesia karena kecewa dan kesal dengan apa yang telah dialami.  

Sunday, April 17, 2011

Khairunnas Anfa’uhum Linnas

Menurut Emha Ainun Nadjib ada 5 kategori manusia : Manusia wajib, manusia sunnah, manusia mubah, makruh dan manusia haram.

Manusia wajib ditandai jikalau keberadan sangat bermanfaat buat orang lain. Tanda-tanda yg nampak dari seorang manusia wajib diantara dia seorang pemalu jarang mengganggu orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku keseharian lebih banyak kebaikannya. Ucapan senantiasa terpelihara, ia hemat betul kata-kata sehingga lebih banyak berbuat daripada berbicara. Sedikit kesalahan tak suka mencampuri yang bukan urusannya dan sangat nikmat kalau berbuat kebaikan. Hari-hari tak lepas dari menjaga silaturahmi sikap penuh wibawa penyabar selalu berterima kasih penyantun lemah lembut bisa menahan dan mengendalikan diri serta penuh kasih sayang. Perilaku 'manusia wajib' membuat hati orang di sekitar tercuri, Kata-katanya akan senantiasa terngiang-ngiang. Keramahan pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yg sedang membara. Jikalau orang yang berakhlak mulia ini tak ada, maka siapapun akan merasa kehilangan dan terasa ada sesuatu yg kosong di qolbu ini.

Orang yang sunah keberadaan bermanfaat tetapi kalau pun tak ada tak tercuri hati kita. Tidak ada rongga qolbu yang kosong akibat rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amal belum benar-benar dari lubuk hati yang paling dalam.

Manusia yang mubah ada atau tidak tak berpengaruh bagi orang lain. Di kantor kerja atau bolos sama saja. Seorang yang ketika ada di rumah keadaan menjadi berantakan dan kalau tak adapun tetap berantakan. Inilah manusia mubah. Ada dan tiada tak membawa manfaat tak juga membawa mudharat.

Adapun orang yang makruh keberadan justru membawa mudharat. Kalau dia tidak ada maka tak berpengaruh. Semisal ada seorang ayah sebelum pulang dari kantor suasana rumah sangat tenang tetapi ketika klakson dibunyikan tanda sang ayah sudah datang anak-anak malah lari ke tetangga ibu cemas dan pembantu pun sangat gelisah. Inilah seorang ayah yang keberadaannya menimbulkan masalah.

Lain lagi dengan orang bertipe haram keberadaan malah dianggap menjadi musibah sedangkan ketiadaan justru disyukuri. Jika dia pergi ke kantor perlengkapan kantor pada hilang, kerjanya korupsi sendiri, suka marah-marah pula. Maka ketika orang ini dipecat semua karyawan yg ada malah mensyukurinya.

Sebaik-baiknya manusia ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana diri punya nilai manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda “Khairunnas anfa’uhum linnas”
“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yg paling banyak manfaat bagi orang lain.” Hadits ini seakan-akan mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri ini.

Monday, April 04, 2011

Hikmah Bencana di Jepang

Bencana gempa dan tsunami di Jepang memberi hikmah dan pelajaran bagi kita yang juga tinggal di daerah rawan bencana. Bangsa Jepang telah menunjukkan pada dunia bagaimana mereka menghadapi cobaan Tuhan mulai pra-bencana, menghadapi dan pasca-bencana dengan semangat pantang putus asa-nya atau dikenal juga dengan motto Gambaru” dan “Gambatte”.

Cetak biru infrastruktur di Jepang memang didisain untuk menghadapi gempa dan tsunami mengingat letak geografisnya. Pelatihan-pelatihan menghadapi gempa sering digelar di berbagai sekolah dan kantor. Bergoyang-goyang di dalam kamar hotel kerap saya rasakan dan mereka tenang-tenang saja sebelum ada pengumuman atau sirine tanda bahaya dibunyikan. Tapi cobaan Tuhan kali ini sangatlah berkuasa dahsyatnya! Manusia memang hanya bisa berupaya.

Mengikuti perkembangan penanganan pasca bencana lewat koran dan internet juga membuat kita berdecak kagum, semua berlangsung rapi walaupun banyak hal yang menyedihkan. Ada jalan ambles yang mulus lagi dalam waktu 6 hari, Nenek yang terkurung  reruntuhan selama 9 hari, aksi heroik tim Fukushima 50 dalam memperbaiki reaktor  nuklir yang bocor.  Pemerintah yang sekuat tenaga melindungi rakyat, dan sebaliknya rakyat yang tabah menghadapi bencana. Masih banyak cerita mengesankan di pengungsian.  Saya belum pernah membaca pemerintah Jepang  mengumumkan secara resmi bahwa mereka membutuhkan bantuan negara lain. Yang saya baca disurat kabar  malah ucapan resmi pernyataan terimakasih dutabesar Jepang di Indonesia, luar biasa.

Menurut saya dari semua hal yang bisa diambil sebagai pelajaran adalah budaya  mereka yang patut kita tiru. Budaya malu untuk korupsi, budaya rendah hati, respek pemerintah kepada rakyat pemilik negri, semangat, daya juang dan nasionalisme rakyat membuat kita harus bercermin diri. Seyogyanya semua pihak berkaca pada kejadian ini, semua hal dan tata kelola penanganan bencana yang menyangkut rencana, strategi, kebijakan, mitigasi dan solusi penanganan bencana mulai dipikirkan kembali buat menghadapi bencana mendatang.

Monday, March 07, 2011

Golden Gate dari Udara

Buat sharing aja...
Pemandangan udara dari ketinggian sekitar 2,000 kaki ini saya ambil dari pesawat ringan bermesin tunggal Cessna 152 pada suatu pagi yang cerah tahun 1994, bersama dengan seorang rekan. 



Sebenernya gak boleh melintas rendah diatas jembatan Golden Gate yang indah ini untuk alasan keamanan dan keselamatan. Mungkin kalo foto ini saya ambil setelah kejadian WTC bakalan dipenjara gw hahaha....


foto sekuel berikutnya adalah foto udara pemandangan kota San Francisco. Ditengah-tengahnya yang ada persegi panjang  hijau adalah taman hutan kota Golden Gate Park, taman Lincoln dan taman Presidio (bagian hijau di sebelah kiri) yang cukup terkenal. Bayangin dikota gede masih banyak hutannya.

Foto diambil memakai kamera analog Konica. 

Friday, February 04, 2011

Nagoya Sekilas


Salah satu sudut bangunan di kompleks istana

Seperti halnya kota-kota lain di Jepang, Nagoya sangat aman dan bersahabat buat para pelancong. Sayang sekali saya cuman sebentar disini.

Saturday, January 22, 2011

Hari Gini, Perlukah Saluran Telepon Rumah/PSTN (Public Switched Telephone Network)?

Saat dunia pertelekomunikasian banjir dengan beragam jenis telepon genggam ataupun fix wireless phone serta kemudahan mendapat/membeli nomer di mana saja, masihkah diperlukan saluran telepon rumah ?

Bagi saya jawabannya “YA”. Telepon rumah masih lebih dapat dipercaya tidak tergantung cuaca, sinyal, pulsa, tidak butuh listrik, murah, radiasi lebih kecil dan lebih mudah dihapal nomer teleponnya (terutama buat anak-anak). Telepon genggam sebagai penunjang mobilitas dalam berkomunikasi.
Nomer telepon rumah saya hanya diketahui oleh kantor, keluarga, saudara dan teman dekat. Jadi kebanyakan untuk komunikasi yang sifatnya penting.

Beberapa orang masih memerlukan sambungan PSTN karena berhubungan dengan urusan bisnis dan kebutuhan lain semisal bonafiditas usaha, aplikasi kartu kredit, persyaratan KPR/KPM, pemasangan internet dsb. Karena birokrasi pemasangan PSTN memerlukan identitas yang benar. Mendapatkan saluran PSTN dari Telkom tidak semudah mendapatkan sambungan telepon fix wireless sehingga jarang orang melakukan penipuan via telepon dari nomer PSTN.

Bagi saya, sambungan PSTN ini saya perlukan untuk komunikasi dua arah yang penting. Untuk hal darurat saya mengajarkan kepada anak untuk menghubungi nomer telepon rumah, mereka bisa menghubungi rumah dari telepon umum koin/kartu, wartel, bahkan meminjam pesawat telepon dari sekolah atau teman, tanpa takut merugikan pihak lain karena pulsa yang mahal.

Untuk hal-hal darurat, bencana, listrik mati, kecelakaan, kematian, penculikan (naudzubilah !) berita gawat dan lain-lain walaupun jarang terjadi, saya tetap merasa perlu memakai saluran telepon rumah. Kalau malam-malam telepon rumah berdering, artinya ada berita yang cukup penting.

Kebanyakan orang memutus saluran PSTN-nya karena nilai abonemennya yang dianggap mahal dibanding nilai pulsa HP. Bayangin Rp 38 ribu kalau beli pulsa CDMA bisa berapa menit tuh, belum lagi SMS sepuasnya.
Sekarang, tinggal bagaimana PT Telkom bersaing harga, mutu layanan dan fasilitas PSTN.
Di banyak negara lain, harga abonemen sudah termasuk gratis nelpon sesama PSTN dalam kota. Atau gratis fitur call waiting maupun fitur sms.

Banyak pula yang berpikir, nomer telepon HP gampang didapat kenapa harus pasang telepon rumah? Bagaimana dengan anda?