Tuesday, May 17, 2011

Haruskah Menjebol Penjara?

Ipad saya tidak di ‘jailbreak’ karena jailbreak termasuk pembajakan piranti lunak, dan pembajakan adalah pencurian. Demikian asumsi awal saya menggunakan produk Apple beserta perusahaan afiliasinya, I-tune Store.

Tanggal 12 Mei 2011 saya dapat telepon dari bank penerbit kartu kredit saya bahwa saya telah berbelanja online di I-tune Store senilai USD99.99 (seratus dollar US kurang satu sen). Saya kaget dan menyangkalnya, kemudian mereka menyarankan agar saya membuat surat sanggahan atas transaksi tersebut. Keesokan harinya I-tune store mengirim tanda terima/receipt atas pembelian virtual coin sejumlah 275,000 (duaratus tujuhpuluh lima ribu koin) di game bernama Frisbee Forever, game gratisan yang memang saya download dan dimainkan oleh anak-anak saya yang beusia 3 sampai 10 tahun. Saya segera mengirimkan surat sanggahan ke bank penerbit kartu kredit sekaligus surat sanggahan ke I-tune Store.

Sedikit beranalisa. Anak-anak saya hampir dipastikan tidak mengetahui password saya di I-tune Store, jadi mereka tidak mungkin melakukan transaksi itu. Kemungkinan paling besar adalah saya yang melakukan transaksi tersebut walaupun saya tidak tahu dan tidak ingat kapan saya memasukkan password I-tune Store dalam rangka ber-transaksi online. Saya tidak suka bermain game online bahkan tidak pernah sekalipun bermain game online yang banyak ditawarkan di Facebook, situs yang kerap saya kunjungi. Program-program yang saya download di I-tune Store ter-install di Ipad adalah 100% program-program yang gratisan. Jadi mustahil saya membeli virtual coins di game itu, buat apaa…?
Kesimpulannya, transaksi itu saya anggap transaksi yang tidak disengaja atau transaksi yang tidak saya kehendaki.

Seperti telah kita ketahui bahwa membuat akun di I-tune Store selain memasukkan data diri dan alamat yang benar juga memerlukan nomer kartu kredit yang masih berlaku. Setiap kali download software walaupun gratis kita tetap memasukkan password akun kita, sehingga sangking terlalu seringnya memasukkan password I-tune Store mungkin saya tidak menyadari bahwa ternyata saya melakukan suatu transaksi belanja. Sehingga saya merasa sedikit terhipnotis dengan cara-cara ini.

Pengalaman rekan-rekan yang tinggal di negara paman Sam, setiap berbelanja di toko-toko dan supermarket, barang yang sudah dibeli berhak dikembalikan ke tempat dimana mereka membeli biasanya dalam waktu 7 hari bahkan tanpa alasan sekalipun. K-mart, Wall Mart, Costco, dan banyak toko-toko retail disana memberikan kebijaksanaan “A week moneyback guarantee”. Saya tidak tahu apakah I-tune Store mempunyai policy seperti ini?

Kalaupun uang saya tidak bisa dikembalikan saya ikhlaskan buat nyumbang mereka, hanya saja akan sedikit merubah asumsi saya semula menjadi, "Bila anda tidak melakukan pencurian (pembajakan) maka bersiap-siaplah untuk diambil"

Hirarki Komunikasi Saya dan (Teknologi) Blackberry

Beberapa teman mendesak saya agar memiliki Blackberry yang pastinya untuk tujuan komunikasi. Kalau dulu saya beralasan harganya terlampau mahal, kini dengan semakin membanjirnya produk BB di pasar selular saya tidak bisa lagi memakai alasan itu. Kalau saya telisik lagi alasannya mengapa enggan  memakai BB adalah : saya tidak siap dengan teknologi yang dimiliki oleh gadget tersebut tentunya dengan dukungan server RIM. Memang terdengar agak aneh buat orang lain.

Hari gini terasa ganjil kalo ada yang gak pake telepon genggam sejuta umat ini. Apalagi beberapa teman berpromosi bahwa BB adalah the most powerfull cellular ever, ada lagi yang bilang the latest art-of-the state of gadget. Pokoknya BB lain dengan HP lainnya, terutama untuk hal berkomunikasi.
Walaupun sebenarnya saya ingin sekali mencicipi kecanggihan BB ini tapi sayang sekali, istri saya yang akan dijadikan percobaan menggunakan BB tidak pernah mau memakainya. Entah apa alasannya. Sementara saya sendiri belum merasa perlu memakainya untuk keperluan komunikasi, sekali lagi komunikasi. Ya karena kehebatan BB ada pada teknologi komunikasi diantaranya adalah push email dan BB messenger.
Menurut pendapat saya, ada hirarki dalam kita berkomunikasi dua arah;
  1. Komunikasi dua arah dengan sifat berita yang sangat penting.
    Ada berita-berita penting yang harus segera disampaikan secara cepat kepada penerima berita. Biasanya berita darurat, kematian, sakit, kecelakaan, bencana, dll. Kalau lokasinya dekat maka saya melakukannya secara face to face. Kalau jauh saya memakai telepon untuk menyampaikan berita jenis ini. Saya tidak memikirkan lagi biaya bertelepon untuk hal-hal bersifat emergency. Misalnya : Memberi tahu pihak bank untuk memblokir kartu kredit atau HP yang hilang meskipun harus memakai saluran langsung internasional. Istri saya tidak segan-segan menghubungi HP saya meskipun roaming/SLI jika ada berita-berita kematian/sakit keras keluarga atau rumah kebanjiran. Oleh karena itu telepon rumah tidak saya matikan, telepon rumah sangat penting. Banyak orang memutus saluran telepon rumahnya hanya karena telepon genggam sudah menjamur.
    Untuk menghemat pulsa kalau sedang berada di negeri orang biasanya berita penting saya sampaikan via wartel atau telepon umum kartu yang rata-rata sudah menggunakan VOIP, Voice Over Internet Protocol.
  2. Komunikasi dua atau satu arah dengan berita agak penting.Kalau dulu ada telegram untuk menyampaikan berita jenis ini, sekarang ada SMS. Anak sakit, berita perkawinan, ucapan selamat, kabar gembira, jatuh tempo bayar ini-itu cukup SMS saja. Syukur-syukur yang menerima SMS mengucapkan terimakasih atau memberitahu bahwa berita sudah diterima.
  3. Komunikasi dua atau satu arah dengan isi berita agak panjang bersifat agak penting atau  tidak penting-penting amat.
    Dulu ada surat dan kartupos sekarang bisa lewat surat elektronik. Kalau email yang saya kirim sifatnya agak penting, maka  akan saya ikuti dengan mengirim SMS memberitahu supaya si penerima segera membuka email inbox-nya.  Atau bisa juga saya beritahu via IM kalau ybs sedang OL. Untuk hal email saya memperlakukannya mirip surat konvensional. Saya cek inboks secara berkala sortir, baca dan balas yang perlu. Saya juga memakai filter spam dan junk mail jadi mohon maaf kalau ada email yang tidak sampai karena terfilter oleh mereka.
    Karena memperlakukan email secara konvensional itu maka saya memakai fitur pull email (bukan push email) dari HP dan PC saya.
  4. Komunikasi Instant Messenger (IM)
    Moda baru komunikasi digital ini perlu kita sikapi dalam pemakaiannya. Dulu jaman MIRC atau ICQ jikalau kita online berarti kita berada didepan komputer,  artinya kita siap menerima dan membalas pesan yang masuk, makanya dinamai Instant Messenger. Kalo kita tidak OL berarti jangan berharap dibalas secara instan. Itulah mengapa di YM ada ikon-ikon yang menandakan apakah kita sibuk, siap, away, OL tapi pergi dan sebagainya. Selain itu sifat pembicaraan di IM hanyalah chit-chat/obrolan ringan semata (jadi ingat ngobrol di ICQ jaman dulu yang disertai ASL? please
    ).
    Komitmen saya di IM, kalau saya OL di Yahoo Messenger berarti saya siap ngobrol ringan dengan kawan-kawan. Artinya saya ada waktu luang untuk sekedar chatting. Sekali lagi, hanya obrolan ringan saja lho. Sehingga kalo ada koneksi yang tersendat atau diluar jangkauan tidak perlu diambil hati. Mau cuman Buzz!, Ding!, ngirim emoticon, say hi, becanda ringan, tegursapa, basabasi, disinilah tempatnya. Tapi ingat-ingat kalo sedang bekerja ya jangan chatting ya, paling tidak pasanglah status sibuk atau away, supaya saya juga tidak mengganggu anda.
Dengan mengklasifikasi jenis-jenis komunikasi sedemikian rupa saya jadi tidak memerlukan fitur-fitur BB. Justru dengan teknologi push email akan menjadikan email setara dengan SMS malah membuat saya bingung. Sebenernya sih kecanggihan  teknologi adalah mempermudah manusia, akan tetapi kita sering salah kaprah menggunakannya. 

Dengan adanya push email malah keliru dipakai mengirim berita dengan klasifikasi seperti SMS atau IM. Gak jarang mereka mengirim email dengan isi seperti : Ya Boss, Sip, Ok, Ouwhh begitu!, Baik Pak, dan email-email super singkat dan gak penting sejenis itu. Terutama di milist, jejaring sosial yang integrasi dengan email atau notifikasinya dikirim ke inbox email sehingga menjadikan chatting via email. Maaf, hal ini kebanyakan terjadi pada para pengguna BB yang tidak mengenal etika ber-email dan dunia internet sebelumnya. Sampai-sampai ada yang mengira inbox di facebook adalah kotak surat email mereka.
Sebaliknya, banyak nomer telepon tak dikenal mengirim via SMS berisi penawaran KTA/KPR, pinjaman bunga lunak, penawaran produk, promosi-promosi menyebalkan.


Begitu pula salah kaprah menyikapi Instant Messenger. Gak pagi, gak malam diset online terus menerus, tapi giliran disapa dijawabnya besok. Beberapa kali saya melihat orang sibuk dengan gadgetnya sendiri tanpa mengawasi anaknya, atau ketawa-ketiwi disamping pasangannya dalam sebuah meja makan direstoran tapi dengan dunianya masing-masing. Bukan saya sirik, tapi ini akibat salah menyikapi kecanggihan teknologi dan saya belum siap kearah sana.

Ada yang berdalih lebih murah memakai BB untuk berkomunikasi karena basisnya adalah packet data. Jawaban saya bisa ya bisa tidak !, murah untuk pembelian pulsa data tapi dibarter dengan kehidupan sehari-hari anda di dunia nyata, saya tidak mau seperti itu. Bagi saya waktu 24 jam cukup 10-20% adalah waktu saya buat dunia maya sisanya saya lebih suka bermain dengan anak saya, hobby olahraga, ngobrol dengan keluarga, makan, jalan-jalan, tidur, mandi, ibadah  tanpa diganggu dengan suara/panggilan tang-ting-tung alat yang memperbudak saya. Karena itu sampai sekarang kalau ketinggalan HP dirumah saya tidak merasa dunia akan kiamat…

Tips :
  • Bertelponlah untuk berita yang super penting.
  • Belajar mengklasifikasi sifat berita yang disampaikan. Misalnya: Jemput saya di stasiun Gambir tgl sekian jam sekian. Dikirim via telpon atau SMS.
  • Set status IM anda sesuai dengan kondisi supaya orang lain mengerti juga kondisi anda.
  • Sikapi pemakaian gadget/HP anda dengan bijaksana mis. Matikan atau set silent saat berada di meja makan, istirahat sedang beribadah. Banyak orang tidak menyukai hal seperti anda berbicara pada seseorang dengan muka tidak menghadap ke wajah lawan bicara, melainkan menghadap ke ponsel.

Wednesday, April 20, 2011

Kesan Seorang Wisatawan

Dua minggu lalu aku berkenalan dengan Abdullah bin Salman di atas pesawat dari Jeddah menuju Jakarta. Anak muda enerjik ini berangkat liburan ke Indonesia. Entah mungkin terkesan dengan cerita orang atau jatuh cinta pada kunjungan yang pertama, liburannya ini adalah kunjungan keduanya ke Indonesia. Dia yakinkan orang tua dan saudaranya untuk ikut serta. Abdullah sempat mengenyam pendidikan penerbangan di Kuala Lumpur dan sekarang berprofesi sebagai salah satu Air Traffic Controller atau pengatur lalu lintas udara di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, Arab Saudi.

Diatas pesawat dengan antusias dia sudah merencanakan liburannya selama dua minggu di Bandung, dan sekitarnya. Dia tunjukkan dari gadgetnya daftar itinerary dan situs-situs berbahasa arab obyek wisata yang akan dituju selama disana. Sekilas saya lihat ada Taman Cibodas, Tangkuban Perahu, Taman safari, taman buah Mekarsari dan Bandung. Pasti bakal padat acaranya. Saya sempat tawari untuk berkeliling Jakarta di hari kedatangan itu, tapi rupanya dia langsung menuju puncak sesuai rencananya.

Dua minggu berselang, saya mendapat tugas berangkat lagi ke Jeddah. Di ruang tunggu penumpang kami disapa oleh Abdullah yang juga akan pulang  dengan pesawat yang sama. Wow, kebetulan yang luar biasa.

Kami kembali ngobrol di perjalanan menuju Jeddah. Saya tanyakan tentang liburannya, sepertinya acaranya sukses. Kemudian salah seorang teman menanyakan bagaimana kesan-kesannya selama di Indonesia. Tanpa basa-basi Abdulah menjawab, “Saya suka alamnya tapi tidak suka dengan system birokrasi /administrasi dan kemacetannya”. Abdullah tidak cerita detail tentang kekecewaannya, tapi saya berasumsi pasti tentang pungli, korupsi dan semacamnya.

Pengalamanku saat ditanya orang luar,”How do you like my country?”
Seringkali saya menyenangkan orang tersebut dengan menjawab : No, I don’t like it … sengaja saya berhenti sejenak melihat reaksi mukanya. Kemudian meneruskan : But I love it! dan kamipun tertawa. Padahal  dalam hati apa bagusnya sih negara ini tanpa pohon kelapa, pohon pisang, gunung-gunung dan pantai pasir putih? Yang ada hanya menonjolkan infrastruktur  dan sistem keteraturan. Justru ketertiban dan keteraturan inilah yang bisa dipakai sebagai nilai jual negara lain.

Kembali ke Abdullah, berbeda dengan anak muda arab yang lain, Abdullah anak muda yang santun dan jujur. Benar, walaupun sebentar mengenal dia tetapi aku bisa menilainya. Kesannya tentang Indonesia yang diungkapkan tanpa basa-basi memang begitu adanya, dan aku sangat setuju dengannya. Kalau kita tidak berubah, wisatawan-wisatawan seperti dia cukup sekali  dua kali saja datang ke Indonesia karena kecewa dan kesal dengan apa yang telah dialami.  

Sunday, April 17, 2011

Khairunnas Anfa’uhum Linnas

Menurut Emha Ainun Nadjib ada 5 kategori manusia : Manusia wajib, manusia sunnah, manusia mubah, makruh dan manusia haram.

Manusia wajib ditandai jikalau keberadan sangat bermanfaat buat orang lain. Tanda-tanda yg nampak dari seorang manusia wajib diantara dia seorang pemalu jarang mengganggu orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku keseharian lebih banyak kebaikannya. Ucapan senantiasa terpelihara, ia hemat betul kata-kata sehingga lebih banyak berbuat daripada berbicara. Sedikit kesalahan tak suka mencampuri yang bukan urusannya dan sangat nikmat kalau berbuat kebaikan. Hari-hari tak lepas dari menjaga silaturahmi sikap penuh wibawa penyabar selalu berterima kasih penyantun lemah lembut bisa menahan dan mengendalikan diri serta penuh kasih sayang. Perilaku 'manusia wajib' membuat hati orang di sekitar tercuri, Kata-katanya akan senantiasa terngiang-ngiang. Keramahan pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yg sedang membara. Jikalau orang yang berakhlak mulia ini tak ada, maka siapapun akan merasa kehilangan dan terasa ada sesuatu yg kosong di qolbu ini.

Orang yang sunah keberadaan bermanfaat tetapi kalau pun tak ada tak tercuri hati kita. Tidak ada rongga qolbu yang kosong akibat rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amal belum benar-benar dari lubuk hati yang paling dalam.

Manusia yang mubah ada atau tidak tak berpengaruh bagi orang lain. Di kantor kerja atau bolos sama saja. Seorang yang ketika ada di rumah keadaan menjadi berantakan dan kalau tak adapun tetap berantakan. Inilah manusia mubah. Ada dan tiada tak membawa manfaat tak juga membawa mudharat.

Adapun orang yang makruh keberadan justru membawa mudharat. Kalau dia tidak ada maka tak berpengaruh. Semisal ada seorang ayah sebelum pulang dari kantor suasana rumah sangat tenang tetapi ketika klakson dibunyikan tanda sang ayah sudah datang anak-anak malah lari ke tetangga ibu cemas dan pembantu pun sangat gelisah. Inilah seorang ayah yang keberadaannya menimbulkan masalah.

Lain lagi dengan orang bertipe haram keberadaan malah dianggap menjadi musibah sedangkan ketiadaan justru disyukuri. Jika dia pergi ke kantor perlengkapan kantor pada hilang, kerjanya korupsi sendiri, suka marah-marah pula. Maka ketika orang ini dipecat semua karyawan yg ada malah mensyukurinya.

Sebaik-baiknya manusia ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana diri punya nilai manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda “Khairunnas anfa’uhum linnas”
“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yg paling banyak manfaat bagi orang lain.” Hadits ini seakan-akan mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri ini.

Monday, April 04, 2011

Hikmah Bencana di Jepang

Bencana gempa dan tsunami di Jepang memberi hikmah dan pelajaran bagi kita yang juga tinggal di daerah rawan bencana. Bangsa Jepang telah menunjukkan pada dunia bagaimana mereka menghadapi cobaan Tuhan mulai pra-bencana, menghadapi dan pasca-bencana dengan semangat pantang putus asa-nya atau dikenal juga dengan motto Gambaru” dan “Gambatte”.

Cetak biru infrastruktur di Jepang memang didisain untuk menghadapi gempa dan tsunami mengingat letak geografisnya. Pelatihan-pelatihan menghadapi gempa sering digelar di berbagai sekolah dan kantor. Bergoyang-goyang di dalam kamar hotel kerap saya rasakan dan mereka tenang-tenang saja sebelum ada pengumuman atau sirine tanda bahaya dibunyikan. Tapi cobaan Tuhan kali ini sangatlah berkuasa dahsyatnya! Manusia memang hanya bisa berupaya.

Mengikuti perkembangan penanganan pasca bencana lewat koran dan internet juga membuat kita berdecak kagum, semua berlangsung rapi walaupun banyak hal yang menyedihkan. Ada jalan ambles yang mulus lagi dalam waktu 6 hari, Nenek yang terkurung  reruntuhan selama 9 hari, aksi heroik tim Fukushima 50 dalam memperbaiki reaktor  nuklir yang bocor.  Pemerintah yang sekuat tenaga melindungi rakyat, dan sebaliknya rakyat yang tabah menghadapi bencana. Masih banyak cerita mengesankan di pengungsian.  Saya belum pernah membaca pemerintah Jepang  mengumumkan secara resmi bahwa mereka membutuhkan bantuan negara lain. Yang saya baca disurat kabar  malah ucapan resmi pernyataan terimakasih dutabesar Jepang di Indonesia, luar biasa.

Menurut saya dari semua hal yang bisa diambil sebagai pelajaran adalah budaya  mereka yang patut kita tiru. Budaya malu untuk korupsi, budaya rendah hati, respek pemerintah kepada rakyat pemilik negri, semangat, daya juang dan nasionalisme rakyat membuat kita harus bercermin diri. Seyogyanya semua pihak berkaca pada kejadian ini, semua hal dan tata kelola penanganan bencana yang menyangkut rencana, strategi, kebijakan, mitigasi dan solusi penanganan bencana mulai dipikirkan kembali buat menghadapi bencana mendatang.

Monday, March 07, 2011

Golden Gate dari Udara

Buat sharing aja...
Pemandangan udara dari ketinggian sekitar 2,000 kaki ini saya ambil dari pesawat ringan bermesin tunggal Cessna 152 pada suatu pagi yang cerah tahun 1994, bersama dengan seorang rekan. 



Sebenernya gak boleh melintas rendah diatas jembatan Golden Gate yang indah ini untuk alasan keamanan dan keselamatan. Mungkin kalo foto ini saya ambil setelah kejadian WTC bakalan dipenjara gw hahaha....


foto sekuel berikutnya adalah foto udara pemandangan kota San Francisco. Ditengah-tengahnya yang ada persegi panjang  hijau adalah taman hutan kota Golden Gate Park, taman Lincoln dan taman Presidio (bagian hijau di sebelah kiri) yang cukup terkenal. Bayangin dikota gede masih banyak hutannya.

Foto diambil memakai kamera analog Konica. 

Friday, February 04, 2011

Nagoya Sekilas


Salah satu sudut bangunan di kompleks istana

Seperti halnya kota-kota lain di Jepang, Nagoya sangat aman dan bersahabat buat para pelancong. Sayang sekali saya cuman sebentar disini.

Saturday, January 22, 2011

Hari Gini, Perlukah Saluran Telepon Rumah/PSTN (Public Switched Telephone Network)?

Saat dunia pertelekomunikasian banjir dengan beragam jenis telepon genggam ataupun fix wireless phone serta kemudahan mendapat/membeli nomer di mana saja, masihkah diperlukan saluran telepon rumah ?

Bagi saya jawabannya “YA”. Telepon rumah masih lebih dapat dipercaya tidak tergantung cuaca, sinyal, pulsa, tidak butuh listrik, murah, radiasi lebih kecil dan lebih mudah dihapal nomer teleponnya (terutama buat anak-anak). Telepon genggam sebagai penunjang mobilitas dalam berkomunikasi.
Nomer telepon rumah saya hanya diketahui oleh kantor, keluarga, saudara dan teman dekat. Jadi kebanyakan untuk komunikasi yang sifatnya penting.

Beberapa orang masih memerlukan sambungan PSTN karena berhubungan dengan urusan bisnis dan kebutuhan lain semisal bonafiditas usaha, aplikasi kartu kredit, persyaratan KPR/KPM, pemasangan internet dsb. Karena birokrasi pemasangan PSTN memerlukan identitas yang benar. Mendapatkan saluran PSTN dari Telkom tidak semudah mendapatkan sambungan telepon fix wireless sehingga jarang orang melakukan penipuan via telepon dari nomer PSTN.

Bagi saya, sambungan PSTN ini saya perlukan untuk komunikasi dua arah yang penting. Untuk hal darurat saya mengajarkan kepada anak untuk menghubungi nomer telepon rumah, mereka bisa menghubungi rumah dari telepon umum koin/kartu, wartel, bahkan meminjam pesawat telepon dari sekolah atau teman, tanpa takut merugikan pihak lain karena pulsa yang mahal.

Untuk hal-hal darurat, bencana, listrik mati, kecelakaan, kematian, penculikan (naudzubilah !) berita gawat dan lain-lain walaupun jarang terjadi, saya tetap merasa perlu memakai saluran telepon rumah. Kalau malam-malam telepon rumah berdering, artinya ada berita yang cukup penting.

Kebanyakan orang memutus saluran PSTN-nya karena nilai abonemennya yang dianggap mahal dibanding nilai pulsa HP. Bayangin Rp 38 ribu kalau beli pulsa CDMA bisa berapa menit tuh, belum lagi SMS sepuasnya.
Sekarang, tinggal bagaimana PT Telkom bersaing harga, mutu layanan dan fasilitas PSTN.
Di banyak negara lain, harga abonemen sudah termasuk gratis nelpon sesama PSTN dalam kota. Atau gratis fitur call waiting maupun fitur sms.

Banyak pula yang berpikir, nomer telepon HP gampang didapat kenapa harus pasang telepon rumah? Bagaimana dengan anda?
 

Saturday, January 08, 2011

HP ku Hilang.

Gak terasa sama sekali HP-ku sudah tidak berada di saku celana, sekembali dari muter-muter di Nam Daemun dan Seoul Station. Sepertinya terjatuh dari saku celana.

Hari ini saya kehilangan HP nokia N82 yang sudah saya rawat dijaga baik-baik. Sekitar tiga tahun lalu beli lewat perjuangan tukar tambah di Kaskus. Kamera dan flash xenon 5 mpix menghasilkan banyak momen tak terlupa, LCD-nya baru ganti, Battereinya juga baru, ori semua. GPSnya sudah membimbing saya dari Ranu Pane Semeru sampai Jabbal Uhud Madinah. Simcard Saudinya masih valid sampai 2013. Semua saya ikhlaskan karena saya percaya pada kuasa-Nya.

Seketika ingatan saya ke Time Zone, Supermall Karawaci beberapa hari yang lalu. Saat itu saya menemukan sebuah kartu game time zone di suatu meja permainan, bukannya dikembalikan ke anak yang barusan bermain eh.. malah saya pakai main juga kartu tersebut. Maafkan saya ya Dik !, ternyata menjadi orang sempurna tidak segampang teori dan motivasi orang bijak yang kerap saya baca. Selain itu budaya dan sosiologi masyarakat kita ikut andil dalam ihwal ini, bahwa nemu barang di tempat umum adalah suatu rezeki buat penemunya padahal jelas-jelas bukan haknya.

Biasana setelah peristiwa “penemuan” pasti gantian saya yang kehilangan. Kejadian seperti ini sudah hitungan jari tangan dan kaki terjadi pada saya. Pernah nemu uang Rp50 ribuan di tangga keluar Masjid Istiqlal suatu ashar yang sepi sekitar tahun 1997 sebelum krisis. Bayangin uang sebesar itu kok menggoda didepan mata saya. Setelah menghitung kancing antara “ya” atau “tidak”, akhirnya saya ambil juga uang tersebut buat keperluan dugem.
Beberapa hari kemudian uang saya di ATM hilang Rp100 ribu dengan cara yang unik. Saya melakukan penarikan Rp900 ribu (kala itu maksimal penarikan Rp1juta) via ATM, begitu uang keluar buru-buru saya bergegas, kartu  ATM lupa diambil. Keesokan hari ketika nge-print buku tabungan, ada yang mendebet  Rp100ribu dari kartu ATM yang tertelan itu. Janggal tapi saling berkaitan. Dan masih banyak kejadian serupa berulang, sampai akhirnya saya yakin ada Arsitek skenario yang mengatur karma kecil ini.


Kembali ke kartu game yang saya temukan. Dalam hati kecil ada setan yang sempat menantang, habis ini saya akan kehilangan apa sih? Masak iya ada kekuatan lain yang bisa mengatur kemampuan saya. Ya Allah, ampuni saya ya Allah.
Setelah peristiwa di Time Zone, ketika terbang ke Nagoya saya sempat kehilangan kartu kamar hotel di sekitar pinggir laut Nagoyako. Ah mungkin ini pembalasan dari kartu Time Zone tempo hari. Nemu kartu dibalas hilang kartu setimpal bukan? Ternyata bukan itu pembalasannya. Saya kehilangan lebih dari kartu, yaitu kartu simcard beserta unit HPnya.

Alhamdulillah saya gak kehilangan anggota badan atau nyawa saya, Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang ampuni hambamu yang kerap melakukan kesalahan-kesalahan ini. Saya berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama dikemudian hari. Saya ikhlas semuanya terjadi karena kuasa-Mu.
Apabila dikemudian hari "kehilangan" masih terjadi, akan saya jadikan sebagai penanda bahwa ada hak orang lain yang telah aku ambil. Hanya Engkau ya Allah yang mampu menciptakan keseimbangan dalam kehidupan ini.

Saturday, December 18, 2010

A d i l

Dalam perspektif Hablumminannas atau hubungan antar manusia, berperilaku adil dan seimbang  (justice and fair) adalah adalah hal yang utama dalam agama Islam. Ada beberapa ayat  yang saya catat mengenai kewajiban berlaku adil antara lain dalam Al-Quran surat An Nahl 16:90, An Nisaa 4:58, 135, Al Maa’idah  5:8, Al Hujuraat  49:9, Al Mumtahanah 60;8, Ar Rahmaan 55:9 dan masih puluhan ayat yang lainnya. Allah SWT sudah mengajarkan lewat alam raya bahwa intisari kelangsungan hidup adalah seimbang, tinggal kita menerapkan dalam kehidupan.

Menurut Al-Quran, segala sendi kehidupan menuntut kita untuk berlaku adil dalam segala hal misalnya berdagang, berbicara, bersaksi, memberi hak orang lain, perselisihan, hutang piutang, memberi hukuman/balasan, dan bahkan harus adil dalam menghadapi orang/kaum yang kita benci (QS Al-Maa’idah 5:8).

Hemat saya, definisi "adil" cukup sederhana saja, yaitu pada saat kita memperlakukan orang lain sesuai porsi yang seimbang dan ketentuan-ketentuannya, kemudian orang lain tersebut mau menerima dengan ridha dan ikhlas ketetapan kita. Kedua belah pihak harus legawa.
Mungkin prakteknya yang agak susah adalah perihal ikhlas-nya. Apabila adil sudah ditegakkan maka kasih, sayang dan ikhlas akan mengikuti. Keadilan yang sebenar-benarnya dan mutlak hanyalah milik Allah semata.

Misalnya, dalam menimpakan hukuman terhadap anak tentu kita harus melihat tingkat kesalahan yang sudah dilanggar.  Pelanggaran berat hukumannya tentu tidak sama dengan  pelanggaran ringan. Begitu pula sebaliknya dalam pemberian reward. Kalau sama rata tentunya malah tidak adil.

Oleh karena itu adil juga dekat berkaitan dengan hukum, maka tidaklah heran kalau ada banyak hukum Islam yang mengatur tentang hak dan kewajiban terhadap sesama manusia.

Tidak seperti orang lain yang mengagung-agungkan perihal "kasih" dan "cinta" dalam tatanan kehidupan. Di Islam, cinta dan kasih juga hal yang penting tapi bukanlah hal yang substantif. Cinta dan kasih yang berlebihan malah mengandung efek samping yang kurang baik entah pilih kasih, tebang pilih, anak jadi manja, orang jadi merasa terkekang, kita jadi posesif dan sebagainya. Sementara itu tidak ada efek buruk dari suatu keadilan yang hakiki.


Jakarta-Madinah, 18 Desember 2010

Monday, November 01, 2010

Ternyata Masih Ada Produk Bukan Buatan China :)

Hari ini iseng jalan-jalan sama Bimo ke sekitar Chornice, Jeddah. Di tengah gempuran produk China masih ada produk-produk yang bukan made in China.


Ada panci aluminium buatan Egypt (Mesir) seharga 15 Riyal.

Steker T listrik buatan Spanyol, cuman 1 Riyal.


3 Pasang kaos kaki olahraga model pendek semata kaki buatan USA, seharga 15 Riyal.

Semuanya produk berkualitas dengan harga terjangkau.
Apakah ini tanda-tanda akan runtuhnya dominasi  produk-produk China?
Ah sepertinya tidak. Diseantero ballad masih jutaan produk dengan label Made In China.
Saya rasa disini kekuatan ekonomi mereka, sektor ril !

Bimo lagi nyari-nyari kacamata baca produk China seharga 5 Riyal.

Saturday, October 30, 2010

Dari Canon Photo Marathon 2010


Acara perlombaan yang diikuti peserta lebih dari 2000 orang ini adalah acara hunting sekaligus lomba foto terbanyak di Indonesia yang pernah ada, sehingga mendapat penghargaan rekor MURI. Peserta juga datang dari berbagai penjuru nusantara.

Acara hunting dan lomba foto yang kedua ini digelar oleh PT Datascrip pada tanggal 16 Agustus 2010 di Tribeca Central Park Slipi, Jakarta Barat.
Di album ini ada beberapa foto yang sedianya saya ikutkan dalam lomba, tapi karena beberapa pertimbangan saya batalkan.

Thursday, September 02, 2010

Konsep Baiti Jannati

Dari jaman batu hingga jaman beton, manusia butuh rumah sebagai tempat berlindung dan berkumpul. Jaman sekarang, orang berlomba-lomba menghias memperluas, mengisi dengan berbagai perabot mewah demi mencari kenyamanan rumah sebagai fungsinya untuk tempat tinggal.  Tapi tetap saja orang nggak betah berlama-lama tinggal dirumah.
Foto: Rumah dibelakang kost Toni Merbabu di Jogya


Suatu hari saya mendengar instruktur saya bernasehat. Bahwa kenyamanan suatu rumah dilihat bukanlah dari besar dan mewah, tapi damai suasana didalamnya terutama ditentukan oleh jiwa para penghuni. Rumah yang selalu dirindukan semua anggota keluarga untuk berkumpul kembali sejauh apapun kita melangkah keluar rumah.

Foto: Suvenir miniatur keramik Al Quran di rumah Rudi dan Yura


Tidak perlu perabot yang luks, semua isi rumah kita buat dari hati pikiran yang bersih. Semua tiang kita bangun dari ajaran-ajaran agama yang kokoh.
Tidak perlu bangunan yang luas, yang penting para penghuni dalam rumah dituntut untuk teduh dan lapang dalam menyikapi berbagai persoalan hidup. Sehingga tidak ada cerita anak, istri atau suami yang minggat/kabur dari rumah,  mertua dan orangtua yang nggak krasan tinggal dirumah menantu/anaknya karena masing-masing penghuni menciptakan pertengkaran neraka didalam rumah.

Foto: Taman Sari, Jogya

Hapus semua, rasa curiga orangtua ke anak, anak yang mendebat kakek/nenek, mertua ke menantu. Hilangkan hidup berkasta-kasta dengan pembantu, supir, tukang yang telah berjasa kepada hidup kita. Harmonisasi yang baik dalam sebuah rumah akan berimbas aura positif kepada penghuninya.
Jadikan rumah sebagai sarana tempat untuk berkumpul membagi kasih sayang dan berempati dengan orang disekitar kita. Nasehat diatas terdengar klasik, ratusan kali terdengar oleh kita. Tapi, terapkanlah sekali saja untuk seterusnya. InsyaAllah akan ada rahmat yang berkunjung serta diluaskan hati kita.
Foto: Sudara Nikk di Pacet


Apapun jenis rumah anda, rumah kontrak, rumah petak, rumah kayu, rumah susun, rumah mewah, rumah RSS, apartement, yang penting anda punya konsep pulang ke rumah sebagai analogi surga. 
Karena sebagai muslim kita mengenal konsep qolbu mukmin baitullah. Didalam kalbu seorang mukmin terdapat 'rumah' lapang Allah. Ada kelapangan hati kita untuk kembali kepada pencipta. Karena itu Nabi membuat konsep baiti jannati, rumahku adalah surgaku.
Yes, I’m going home kids.

Thanks to Capt. B. Iswana yang sudah memberi saya banyak pelajaran hidup.

Saturday, August 07, 2010

Redenominasi, Niat Baik dan Berpikirlah Positif

Belakangan ramai media mengulas  rencana pemerintah lewat BI untuk menyederhanakan nominal uang kita yang terlalu banyak angka nol-nya tanpa mengurangi nilai mata uang itu sendiri, istilah kerennya  “redenominasi”. Sebagai orang yang awam mengenai ekonomi, saya nggak akan membahas untung rugi atau hal-hal teknis berkenaan dengan istilah yang pengucapannya pun saya masih belepotan.
Tiba-tiba saja semua orang sekitar saya sudah menjadi pakar ekonomi menjelaskan kerugian-kerugian redomisilasol ini, tuuh kan belepotan. Ada yang bilang enak dong nanti koruptor cuman bawa hasil korupsinya dalam satu dompet aja yang seharusnya berkoper-koper. Yang lain bilang, sebaiknya pemerintah ngurusin hal-hal  yang lebih penting, udah enak-enak kondisi ekonomi kayak sekarang. Nanti malah amburadul lagi, rakyat bisa rush, harga-harga tidak terkendali, chaos, kolapse, hiperinflasi waduhh…
Lagi-lagi banyak pihak dan masyarakat yang alergi pada suatu perubahan. Padahal saya melihat ada suatu niat baik dalam rencana ini.
Niat baik tidak selalu mendapat respon yang baik. Beberapa hari lalu saya baca tulisan Jaya Suprana mengenai hal good willing ini, dia mencontohkan ide menggratiskan listrik oleh Dahlan Iskan -direktur PLN- yang ditentang sekumpulan politik manusia, atau rencana pendidikan gratis di suatu kota di ujung Jawa Timur yang ditanggapi remeh oposisi lawan-lawan si Bupati, sementara ide Pak Jaya sendiri mengadakan pelayanan kesehatan gratis juga dianggap hal-hal yang nyleneh oleh beberapa pihak.
Alasan ketidak setujuan dengan niat-niat baik itu macam-macam, ada yang berpikir hal semacam itu tidak membuat masyarakat jadi tidak mandiri, manja, tidak mendidik dan sebagainya (ingat BLT?).
Kebanyakan manusia memang selalu resist dengan perubahan.  Seorang teman blogger (Lukie) menulis, kecenderungan manusia untuk bersifat lembam, yaitu sifat benda untuk terus berada/mempertahankan kondisi terakhirnya. Menurut saya adalah benar adanya, khususnya di tatanan masyarakat kita. Mungkin hampir sama dengan keengganan saya untuk keluar dari “comfort zone”, padahal kata sebagian motivator hidup, hal ini sangat merugikan.
Kenapa kita selalu berprasangka buruk terhadap suatu rencana (baru rencana lho) yang baik? Karena mungkin pelaksanaan rencana tersebut banyak menyimpang dari niatan semula. Masih menurut Jaya Suprana, Misalnya: niat baik konversi minyak dan pengadaan tabung gas kecil 3kg yang lebih terjangkau malah jadi bencana ledakan, niat busway mengurangi macet malah jadi sumber macet. Akhirnya orang malah pesimis dengan semua rencana dan niat baik pemerintah. Baru diwacanakan sudah ditentang. Iya bener juga sih!!!
Trus bagaimana kita mau berubah kalau skeptis untuk menerima perubahan? Saya sendiri belum menemukan solusinya selain lagi-lagi dengan dua hal yang sangat berat untuk diaplikasi dalam kehidupan ini: Positive thinking dan ikhlas.

Wednesday, July 28, 2010

Liburan Panjang 2010


Bagasi disulap jadi kabin buat tidur balita. Baju-baju ditumpuk dibawah jadi kasurnya.

Apess...Dapat cuti kok kebetulan bareng liburan sekolah. Kursi pesawat penuh, terpaksa jalan darat sejauh kurang lebih 3000 km lebih Jakarta-Bali pp membawa para balita.

Blog :
http://lasem2.multiply.com/journal/item/53/Menyusur_Pulau_Jawa_dan_Bali_Bersama_Para_Balita

Tuesday, July 27, 2010

Menyusur Pulau Jawa dan Bali Bersama Para Balita

Membawa serta anak-anak yang masih balita dalam perjalanan liburan via jalan darat menyusuri sepanjang pantai utara pulau Jawa memang agak riskan. Tadinya saya ragu, mengingat tahun kemarin rencana ke Pangandaran terhenti cuman sampai kota Bandung karena kepenatan anak-anak.

Kalau Nadine (9 thn) saya tidak terlalu khawatir, karena sedari kecil terbiasa jalan-jalan dengan berbagai moda transportasi. Leslie (4 thn) dan Akmal (2 thn) adalah tantangan tersendiri buat saya untuk diikut sertakan. Kedua anak saya terakhir itu mempunyai sifat unik. Leslie suka “berulah” dan cenderung aktif, sementara Akmal masih menyusui dan agak manja dan kolotan.  Dan saya sendiri sering tidak tahan mendengar rengekan-rengekan anak kecil yang berkepanjangan.

Singkat kata, dari Tangerang perjalanan terhenti di Pekalongan setelah kami mengalami insiden pengetukan kaca mobil oleh preman Tegal di lampu merah. Saya tidak akan mengambil resiko melewati alas roban pada tengah malam untuk meneruskan perjalanan ke Semarang, kota rencana semula untuk singgah menginap.
Alhamdullilah akhirnya semua lancar, anak-anak juga tidak mengalami kesulitan yang berarti. Setelah semalam di Pekalongan berturut-turut kami menginap di Surabaya, Desa Junggo-Batu, Pronojiwo-Lumajang dan Situbondo.

Rute Surabaya-Malang-Lumajang melewati Semeru selatan adalah napak tilas rute favorit saya waktu kecil, jaman keemasan cengkeh tahun 80-an. Pemandangan sepanjang jalan berkelok-kelok sangatlah indah. Sayang beribu sayang selama dua hari itu awan mendung dan hujan rintik ikut berkolaborasi bersama perjalanan kami menutup indahnya panorama Semeru. Padahal saya ingin menunjukkan ke anak-anak indahnya suasana pedesaan di selatan kaki gunung Semeru.
Semua belum berubah sejak sekitar 10 tahun yang lalu terakhir saya lewat rute ini, hanya jumlah kendaraan saja yang bertambah dan jembatan buatan Belanda yang  tua nan indah itu –Gladak Perak-  sudah tidak terpakai digantikan jembatan baru yang dibuat oleh pemerintah.  

Menginap semalam di desa Oro-oro Ombo, Pronojiwo-Lumajang perjalanan berlanjut lagi. Setelah mampir sebentar di rumah masa kecil Ibu saya di Tekung, Lumajang, perjalanan kami berakhir sementara di Situbondo.
Di Situbondo kami juga sempat jalan lagi ke pantai yang eksotis  Tanjung Papuma, kurang lebih 25 kilometer arah selatan kota Jember atau sekitar 100 Km dari Situbondo.

Kira-kira setelah seminggu di Situbondo kami meneruskan petualangan  lagi ke Denpasar, Bali. Kali ini rombongan bertambah jadi total sepuluh orang.  Etape ini saya tidak terlalu mengkhawatirkan mood anak-anak karena turutnya Akung dan Uti dan para kemenakan istri saya. Tentu mereka akan turut menghandle balita-balita ini.

Selama 5 hari dan 4 malam di Bali touring berlanjut tiap hari, mulai Sanur, GWK, Uluwatu, Kuta, pasar seni Sukawati, Tampak Siring (tidak sempat masuk istana karena harus pakai surat izin tertulis), Kintamani, Denpasar, Kuta lagi, sampai ke perkawinan sepupuku Ferry. Praktis tidak ada yang mengeluh dengan perjalanan menyenangkan ini. Saya lihat trip odometer GPS sudah menunjukkan 1,437 km perjalanan kami. Angka aktualnya adalah lebih dari itu sebab beberapa kali GPS saya matikan karena sudah tahu jalan.

Dari Bali saya sendiri kembali ke Jakarta via udara karena cuti sudah habis. Anak-anak dan rombongan  kembali jalan darat ke Situbondo.

 Saya tidak menanyakan istri mengenai kondisi terakhir anak-anak, sementara saya sendiri agak meriang ketika berdinas selama 5 hari. Lepas dinas saya balik lagi ke Surabaya guna menyusul mereka, membawa pulang kembali ke Tangerang melewati rute sebelumnya yaitu pantura. 

Menginap semalam di Semarang karena saya tidak mau melewatkan malam final piala dunia 2010 di jalanan. Sebelumnya  kami kelelahan terjebak macet kecelakaan truk tronton selama dua jam di Pati-Rembang. Keesokannya secara nonstop bergantian dengan istri selama 8 jam lebih kita sampai dengan selamat di Tangerang mengakhiri liburan panjang kami sepanjang jalan raya Pos, jalan Daendels.

Foto-foto

Saturday, July 17, 2010

Surat Ijin Berkunjung Ke Istana Tampak Siring

Masyarakat umum yg ingin berkunjung ke Istana Kepresidenan Tampaksiring dapat mengajukan surat permohonan ijin kepada :

Kepala Istana Tampaksiring
Jl. Astina Pura Utara
Manukaya, Tampaksiring
Gianyar Bali 80552
Tlp 0361 901400, 901600
Fax 0361 901300

Surat berisi
1. Nama pemohon, alamat, No telp/HP (termasuk penanggungjawab rombongan)
2. Tgl/hari/jam kunjungan Senin-Jumat 0800-1430 WITA
3 Jumlah peserta (daftar peserta dilampirkan)

Surat permohonan diterima paling lambat 7 hari kerja sebelum tanggal kunjungan. Tata tertib berkunjung akan disampaikan setelah ijin berkunjung diterbitkan.
Selama berkunjung ke kompleks istana akan dipandu.
KUNJUNGAN TIDAK DIKENAKAN BIAYA APAPUN

Monday, June 28, 2010

Piala Dunia (1994) dalam kenangan

Berbekal impian sedari kecil yaitu melihat langsung partai piala dunia secara langsung sekali saja dalam hidup, saya berangkat ke stadion Stanford, Palo Alto, sekitar 30 mile selatan San Fransisco. Walaupun sudah baca di Koran bahwa tiket telah habis terjual jauh hari sebelum pertandingan, tetap saja saya bertekad bisa masuk stadion. 
Paling tidak pasti ada acara-acara menarik sekitar venue yang bisa ditonton, maklumlah pesta olahraga manusia sejagat. Tapi masalahnya sepakbola bukan olahraga populer di Amerika Serikat. Iklan komersial salah satu minuman ringan sampai menyindir dengan kata-kata yang artinya kira-kira : Marilah kita ramaikan dan tontonlah pertandingan olahraga terbesar di planet bumi ini, bahkan lebih besar daripada gabungan tiga cabang olahraga terpopuler disana yaitu American football (rugby), basketball dan baseball. 
Anehnya sesampai konter penjualan, tiket untuk penonton go show juga sudah ludes. Padahal saya datang ke stadion lebih awal. Rupanya tiket lewat pemesanan diborong oleh sponsor produk buat diberikan kepada pelanggannya lewat promosi-promosi dan undian.  Sementara alokasi tiket go show yang dijual on the spot sangatlah sedikit, saya belum sempat mengantri tiket sudah habis.
Beruntung seseorang bule Amerika menghampiri saya sambil menawarkan tiket yang dipegangnya, sudah pasti ponakan tulen paman Sam yang gak doyan bola. Transaksi sama sekali nggak alot karena dia menjual lebih murah dari harga yang tertera di tiket, sudah pasti juga dia bukanlah calo tiket. Entah dapat tiket dari membeli TV atau diberi hadiah oleh istrinya. Yang jelas nama di tiket tertera nama orang timur tengah. Bagi saya persetan adanya, yang penting salah satu mimpi saya jadi kenyataan.
Masuk stadion saya agak sedikit kecewa  bukan karena ternyata banyak kursi yang masih kosong di tribun meski tiketnya nil, akan tetapi karena tempat duduk tiket itu ternyata ada di belakang tiang gawang. Apalagi stadion Stanford adalah stadion dengan peruntukan lapangan American football, dimodifikasi sedemikian rupa plus terdapat lintasan atletik, membuat jarak dibelakang tiang gawang lebih jauh daripada stadion bola tanpa lintasan atletik. 
Ah… ya sudah lah, saya juga tidak fokus pada pertandingan antara Kamerun dan Rusia ini padahal pertandingan sarat dengan gol (skor 6-1 buat Rusia). Saya lebih mengamati suasana didalam stadion yang tetap riuh dengan sorakan penonton Amerika yang mungkin mereka juga gak ngerti istilah “offside” dan “handsball” toh mereka tetap atraktif, namanya juga pesta.

Foto bersama legenda sepak bola dari Brasil, Edison Arantes do Nascimento :))

Monday, May 31, 2010

St. Elmo's Fire

Fenomena St. Elmo's Fire di atas Srilanka (22 April 2010). Terlihat kilatan cahaya yang bergesek dengan pesawat kami, kilatan cahaya terlihat di kaca depan. Gambar kurang jelas karena hanya memakai kamera HP. Subhanallah!



Apa itu St. Elmo's fire bisa dibaca di:
http://en.wikipedia.org/wiki/St._Elmo%27s_fire

Salipan Pesawat

Di ruang udara ada semacam jalan imajiner yang dilalui pesawat yang dikenal dengan airways. Jadi pesawat tidak terbang sembarangan, mereka seringkali mengikuti airways tersebut. Mereka bisa saja offset atau keluar jalur dengan berbagai alasan dan izin pengontrol, misalnya menghindari cuaca jelek dan awan.


Jadi adalah hal yang biasa didunia penerbangan bersalipan atau sisipan dengan pesawat lain dijalur yang sama.

Supaya tidak bertabrakan maka dibuat saling silang ketinggiannya. Misalnya ke Barat ketinggian genap (24000, 26000, 28000 kaki dst), sementara ke Timur ketinggiannya ganjil (25000, 27000, 29000 kaki dst).