Friday, April 30, 2010

Berkenalan Dengan Teeza Dalam Mimpi

Secara fisik saya tidak pernah bertemu dan mengenal almarhum Teeza.  Saya hanya mengenal Pak Moekmin, Bapaknya yang menjadi kolega senior saya.

Dalam mimpi semalam saya berada di ruang tunggu terminal bus SAPTCO antarkota di Jeddah, bersama Pak Moekmin. Tujuan kami adalah Mekah.

Di lounge yang sejuk itu sambil memutar-mutar telepon genggamnya, Pak Moekmin seperti biasa ngobrol dan bercanda dengan saya dan seorang teman lagi yang juga akan berangkangkat beribadah umroh ke Masjidil Haram. Tiba-tiba HPnya terlepas dari genggamannya dan berputar di udara sebelum jatuh ke meja. 
    “Kamu ada di sini to Teez…?” Pak Moekmin seperti berbicara pada seseorang, entah dibagian mana di ruang itu. Pasti Si Teeza!, anaknya yang telah kembali menghadap Allah seminggu lalu.

Saya segera menyambar obrolan itu karena inilah saatnya saya berkenalan dengan Teeza. Beberapa hari yang lalu saya sempat mempunyai perasaan sedih yang nggak karu-karuan melihat Teeza terbaring dalam keadaan kritis di RS Siloam.  Kemudian keesokan harinya (Jumat, 23 April 2010) mendapat kabar SMS bahwa Teeza harus meninggalkan kita semua.

     “Mas Teeza… kenalkan saya Andre,” Saya memotong pembicaraan Pak Moekmin dengan anaknya. Padahal saya juga nggak tahu berada dimana lawan bicara saya.
     “Walaupun saya tidak pernah bertemu dan mengenal Mas Teeza, tapi saya ikut merasa kehilangan dengan kepergian Mas Teeza.”  Belakangan ini sejak kejadian kecelakaan yang menimpa Teeza saya sangat bersimpati dengan keluarga Pak Moekmin. Agak sedikit menyesal juga tidak pernah bertatap muka dengan Teeza secara langsung. Padahal dua kali saya mampir kerumahnya tapi tidak pernah berjumpa dengannya.
     “Saya minta maaf kalau punya salah sama Mas Teeza…”
     “Ohh…inggih Mas…I..nggiih…” tiba-tiba terdengar suara yang menggema memenuhi seisi ruangan itu. Suaranya ramah membalas obrolan imajiner saya, makin lama makin membesar volumenya, sampai membuat saya terjaga. Saya lirik jam dinding, baru pukul 2 dini hari.

     “Mimpi apa? Kok mengiggau kayak ngobrol sendiri?” istri saya rupanya kaget mendengar igauan saya barusan. Saya pun bercerita.

Harusnya saya malam ini sudah berniat datang ke rumah Pak Moekmin untuk tahlilan 7 harinya, tapi saya lupa memenuhinya. 
Selamat jalan Bro.. Teeza, maaf saya belum sempat berkenalan di Jakarta. Terimakasih sudah mengingatkan kami bahwa dunia adalah fana, sampai bertemu kelak disana.


Catatan :

Teeza Aria Putra (27 thn) adalah salah satu instruktur penerbang di STPI, Curug. Almarhum gugur dalam menjalankan tugasnya dalam sebuah kecelakaan di landasan bandar udara Budiarto (Senin, 19 April 2010). Pesawatnya TB10 menabrak sepeda motor yang masuk ke landasan.

Kliping Kompas :
- Rabu 21 April 2010 "Jalan Pintas Mengundang Maut"
Sabtu, 24 April 2010 “Teeza Telah Dipanggil Sang Khalik




Tuesday, March 30, 2010

Artikel Harga Air (NGI) Yang Menarik Saya

Saat membaca National Geographic Indonesia (NGI) edisi April 2010 ada artikel yang menarik yaitu Harga Air. Digambarkan disitu peta dunia dan letak beberapa kota dunia serta harga air.
Harga air leding sangat beragam, rentangnya bisa relatif besar  termurah Rp0  sampai termahal Rp90,700 di Kopenhagen dan Amsterdam (lihat tabel dibawah)
Untuk harga air termurah Rp0  dilatari oleh kepentingan politis dari rezim berkuasa untuk mendongkrak status, polpularitas dan kekuasaan (Turkmenistan dan Libya), sementara di India Harga rendah dimaksudkan untuk membantu rakyat miskin. Namun jawatan penyedia air  yang minim dana tidak mampu melayani daerah kumuh, dan memaksa penduduknya membayar biaya yang menggelembung kepada perusahaan air swasta di India.
Sementara di Irlandia, pajak bumi dan bangunan sudah termasuk pasokan air.
Masih menurut NGI, Walau kekurangan air, China tetap menekan harga air untuk menahan laju inflasi. Harga air kini dinaikkan untuk menggalakkan konservasi. Banyak yang percaya, kita akan lebih banyak menghemat air jika harganya lebih tinggi.
Hal menarik menurut saya adalah bagaimana bisa beberapa negara-negara di Afrika dan Timur Tengah yang tandus dan sebagian negara miskin (Etiopia, Kenya, Zambia, Nigeria), harga air bisa lebih murah dari negara kita yang gemah ripah loh jinawi ? Apalagi kalo musim hujan, air melimpah ruah hingga kejalan-jalan
Bahkan dibanding negara tetangga, termasuk China dan Korea harga air kita masih lebih mahal. Sementara PDAM tidak terlampau banyak menangguk untung dan merugi, ada apa PDAM ??
Untuk konservasi? I don’t think so…
Berikut adalah tabel nama kota, negara dan harga air (sudah konversi Rupiah) per satu meter Kubik tahun 2009. Artikel dari National Geographic Indonesia edisi April 2010 halaman 38, saya ketik ulang berdasarkan letak geografis sebagai perbandingan.
Sumber : Global Water Intelligence.
Australia dan Selandia Baru
Aucland, Selandia Baru, Rp38.600
Perth, Australia, Rp28.000
Brisbane, Australia, Rp39.700
Melbourne, Australia, Rp36.000
Sydney, Australia, Rp42.600
Afrika dan Timur Tengah
Addis Ababa, Etiopia Rp2.300
Aljir, Aljazair, Rp1.100
Cape Town, Afrika Selatan, Rp11.100
Casablanca, Maroko, Rp9.000
Damaskus, Suriah, Rp700
Dubai, UEA, Rp21.600
Gaborone, Botswana, Rp5.700
Johannesburg, Afrika Selatan, Rp4.800
Kairo, Mesir Rp7.000
Kigali, Rwanda, Rp6.200
Lagos, Nigeria, Rp3.300
Lusaka, Zambia, Rp1.900
Muskat, Oman, Rp15.300
Nairobi, Kenya Rp5.200
Ramallah, Tepi Barat, Rp15.300
Riyadh, Arab Saudi Rp3.000
Tripoli, Libia, Rp0

Tunis, Tunisia, Rp3.700
Windhoek, Namimbia,Rp18.600
 Asia
Ashgabat, Turkmenistan, Rp0

Bangalore, India, Rp1.700
Beijing, China, Rp5.400
Chongqing, ChinaRp4.100
Hiroshima, Jepang, Rp18.300
Hongkong, China, Rp5.400
Karachi, Pakistan, Rp300
Kolkata, India, Rp0

Kolombo, Srilanka, Rp1.100
Kumamoto, Jepang, Rp27.400
Moskwa, Rusia, Rp8.700
New Delhi, India, Rp800
Odesa, Ukraina, Rp4.400
Sapporo, Jepang, Rp22.800
Seoul, Korea Selatan, Rp5.700
Shanghai, China, Rp3.100
Taipei, Taiwan, Rp3.000
Tallin, Estonia, Rp29.400
Tashkent, Uzbekistan, Rp700
Tokyo, Jepang, Rp19.600
Ulan Bator, Mongolia, Rp2.200
Ulsan, Korea Selatan, Rp8.000
Yerevan, Armenia, Rp4.700
Asia Tenggara
Hanoi, Vietnam, Rp1.600
Ho Chi Minh City, Vietnam, Rp3.600
Jakarta
, Indonesia, Rp7.500
Kuala Lumpur, Malaysia, Rp2,500
Manila, Filipina, Rp4.200
Singapura, Rp16.200
 Eropa
Amsterdam, Belanda, Rp90.700
Berlin, Jerman, Rp66.700
Cork, Irlandia, Rp0

Gent, Belgia, Rp62.500
Glasgow, Inggris, Rp66.000
Helsinki, Finlandia, Rp32.200
Kopenhagen, Denmark, Rp90.700
Lisabon, Portugal, Rp15.800
Madrid, Spanyol, Rp16.500
Newcastle, Inggris, Rp38.700
Nice, Prancis, Rp43.800
Roma, Italia, Rp13.100
Amerika Selatan
Buenos Aires, Argentina, Rp1.400
Santiago, Cile, Rp11.500
Sao Paulo, Brasil, Rp17.300
Rio de Janeiro, Brasil, Rp8.900
Lima, Peru, Rp6.600
Guayaquil, Ekuador, Rp5.000
Panama City, Panama, Rp5.300
Caracas, Venezuela, Rp2.100
Acapulco, Meksiko, Rp5.800
Tegucigalpa, Honduras, Rp1.100
Oranjestad, Aruba, Rp44.500
Mexico City, Meksiko, Rp1.700
Guadalajara, Meksiko, Rp3.800
Chihuahua, Meksiko, Rp3.800
Havana, Kuba, Rp500
Nassau, Kep. Bahama, Rp16.700
Tijuana, Meksiko, Rp8.200
Amerika dan Kanada
Fort Worth, AS, Rp23.400
San Diego, AS, Rp43.600
Phoenix, AS, Rp22.600
Memphis, AS,Rp7.800
Las Vegas, AS, Rp20.200
Philadelphia, AS, Rp32.100
New York City, AS, Rp21.100
Denver, AS, Rp13.900
Detroit, AS, Rp29.800
Vancouver, Kanada, Rp16.800
Calgary, Kanada, Rp34.800
Edmonton, Kanada, Rp30.800
Ottawa, Kanada,  Rp23.100

Friday, March 19, 2010

Kehidupan Berbangsa dan Bertetangga

Kemarin pas akan naik monorail di stasiun Chow Kit, tiga orang polisi diraja negeri jiran melakukan razia KTP. Entah feeling apa hari itu saya membawa fotocopy paspor dan ID card dari hotel tempat saya menginap untuk urusan dinas. Mereka cuman menanyakan kartu pengenal saya –yang saya sodori fotocopy tsb dan ID card-, mereka juga menanyakan maksud dan  tujuan saya. Setelah sesi tanya jawab singkat itu, saya dipersilahkan melanjutkan perjalanan ke Bukit Bintang, tujuan pelesir saya.

Saya teringat beberapa tahun lalu sebuah email forward-an teman-teman yang menceritakan insiden penangkapan dan pemeriksaan seorang WNI yang ditangkap disekitar KLCC karena tidak membawa tanda pengenal .  Ternyata hal itu tidak terjadi kepada saya.

Belum hilang dari ingatan ketika terjadi adu ketegangan masalah klaim budaya, lagu, tari-tarian dll. Bahkan ketika masyarakat sedang panas-panasnya men-sweeping warga Negara Malaysia sekitar 6 bulan lalu, saya malah mendapat perlakuan sebaliknya dari warga serumpun ini. Saya mendapat sambutan hangat disaat gedung kedutaan mereka dilempari telur busuk.  Tidak ada rona permusuhan di wajah mereka.

Bukan saya hendak membela negara jiran, tapi faktanya adalah memang kita adalah rakyat suatu negara yang jauh tertinggal dalam hal pembangunan secara fisik dan pembangunan mental masyarakatnya, jauuh…  ditinggalkan oleh tetangga dan teman-teman serumpun.

Bahkan saya agak malu ketika didalam suatu forum harian Straits Times ada yang nyeletuk,” Take it easy guys… kita kan masyarakat suatu bangsa yang sedang bergerak menuju peradaban berkelas, sementara mereka (kita-kita) sedang bergulat dengan kehidupan dunia ketiga”. Terkesan sombong sih, agak panas juga kuping kita membacanya (baca kok pake kuping). Tapi itu lah kenyataannya.

Sebagian besar masyarakat kita hidup jauh dibawah garis kemiskinan dengan segala duka nestapa, sebagian besar lain adalah bangsawan dan pesuruh rakyat (baca : aparat negara) yang berkolaborasi dengan taipan-taipan untuk mempertebal kantong dan mempertebal muka. Mempertebal juga kuping dan hati dari sindiran rakyat. Kalo dibahas kebobrokan mereka  tidak akan selesai dalam hitungan 65 tahun, hampir seumur republik ini.

Kalo tidak percaya baca aja komentar-komentar di forum-forum kita. Yang memberi komentar kampungan, yang dikomentari juga arogan. Setiap hari isinya hanya adu mulut dan caci-maki, fenomena yang tidak sehat dalam dunia maya dan nyata, akan tetapi sebagian orang bilang inilah demokrasi.

Kembali kepada kehidupan berbangsa dan bertetangga, harus diakui kalau saat ini kita tertinggal jauh dalam berbagai hal. Harus diterima dengan lapang dada. Mereka pun tidak malu mengakui dulu pernah berguru dari tanah Jawa.


(baca juga tulisan agak lama "Klaim Budaya Itu Sekali Lagi” oleh Radhar Panca Dahana, Sastrawan. Saya setuju banget )


Wednesday, February 24, 2010

Nggak Berbakti Kepada Orangtua, Waraskah Aku...?

Dalam perjalanan ke bandara Soekarno-Hatta sepuluh menit lagi kami akan tiba di terminal 2. Rencananya saya akan ke Bali dalam rangka menemani kedua orangtuaku yang ada sedikit urusan dan silahturahmi dengan kakak ibuku di pinggiran Denpasar. Kebetulan hari ini dan besok adalah jadwal liburku. Aku akan menginap dan membuat review tentang Tune Hotel, sebuah hotel yang menawarkan konsep low cost, memang hotel ini adalah hotel jaringan dari maskapai AirAsia. Semalam sudah browsing ke websitenya cuman nggak booking, go show aja sekalian ingin tahu pelayanannya, toh hari ini bukan musim liburan.

Tiba-tiba HP-ku berdering saya lihat dilayar panggilan dari kantor,  pasti hal penting pikirku.
Dari seberang telpon terdengar suara sekretaris kami,”Mas, lagi dimana? Kita mau minta tolong nih!”
Saya jawab, ada acara mau ngantar kedua ortu ke Bali. Telepon terputus.Kemudian berdering untuk yang kedua kalinya, berarti memang benar-benar penting sekali.
“Ndre... dimana? Kita butuh orang nih untuk perjalanan dinas karena sudah tidak ada lagi SDM yang sanggup,” kali ini suara laki-laki disana yang meminta tolong dengan sopan. Ya, atasan saya langsung. Diikuti dengan alasan kenapa harus saya yang statusnya lagi libur ini harus ketiban sampur. Di perusahaan kami, Day Off adalah hak yang mutlak tidak bisa diganggu gugat. Sebenarnya saya berhak untuk menolak segala macam penugasan dari perusahaan.

Pilihan yang sulit sekali. Disisi lain saya mau menolong orangtua sendiri dilain pihak tempat saya mencari makan membutuhkan saya. Terbayang olehku susahnya kedua ortu yang sudah manula (77 dan 64 thn) ini selama disana. Rencana awal mereka akan naik bis Damri ke terminal ubung untuk menuju kerumah kakak ibuku, lalu untuk urusan selanjutnya memakai angkot atau moda transportasi umum selama 2-3 hari disana. Sementara tas-tas mereka lumayan berat. Sebab itulah saya memutuskan ikut bersama mereka dan mengantar kemana urusannya dengan mobil sewa.

Teringat belasan tahun lalu ketika salah seorang paman memberi petuah dan bercerita bahwa orangtua kita adalah dua orang yang harus kita hormati dan diberikan prioritas dalam berbagai hal, terutama ibu. Kan diajarkan didalam agama bahwa orang nomer satu adalah Ibu, lalu ibu dan terakhir ibu lagi, baru kemudian ayah. Di telapak kakinya pun terdapat surga.
“Walaupun saya sudah siap dengan stelan jas dan dasi siap untuk pergi, tetapi apabila Ibu menyuruh saya untuk menyapu rumah sekalipun. Tanpa ba-bi-bu saya akan kerjakan perintah Ibu,” cerita sang paman.

Saya merubah arah mobil, menganalisa sejenak situasi yang tidak menguntungkan ini kemudian memutuskan. Saya akan jalani tugas dari kantor. Bukan karena akan dapat kompensasi lembur karena libur, bukan karena selama satu setengah bulan kemarin saya seolah-olah dirumahkan karena tidak ada penugasan sehingga kelamaan dirumah, bukan karena diminta atasan secara baik-baik demi kelangsungan perusahaan.
Banyak kolega jika berada diposisi saya seperti saat ini lalu jadi diatas angin seolah-olah menjadi karyawan pahlawan. Menjadi pamrih sudah memberi segalanya buat perusahaan. Kemudian bercerita kepada rekan-rekan yang lain tentang pengorbanan dan loyalitasnya.

Saya menjalani tugas karena kecintaanku terhadap pekerjaan dan salah satu bentuk ke-profesional-an. Masalah dapat rejeki lembur dan kondite baik ya Alhamdullilah. Tetapi apakah ini sebanding. Mendadak saya merasa menjadi anak yang tidak berbakti kepada kedua orangtuanya, sudah menyisihkan mereka.

Duabelas jam lebih selama dalam perjalanan dinas terus-menerus kepikiran tentang “kesalahan” yang telah aku perbuat terhadap orangtuaku.
Ingatanku kembali melayang duapuluh empat tahun silam saat duduk di bangku SMP, saya ingat betul Ibu Darsih –guru PMP kami- berkata tepat didepan muka saya saat mendapat hukuman karena melakukan kesalahan,”Kalau kepalamu kepikiran dan dadamu deg-degan saat usai melakukan kesalahan artinya kamu masih waras, mental kamu masih bisa dibenahi agar lurus” tegas Bu Darsih, salah satu guru dengan predikat galak disekolah kami.
Jantung saya malah deg-degan menanti hukuman apa yang kira-kira akan dijatuhkan saat saya ketahuan bolos keluar kelas saat jam pelajaran dimulai. Panas dingin keringat keluar macam butiran kelereng saat itu.

Ya sudah lah...beruntung  saya masih waras walaupun hari ini nggak berbakti kepada orangtua. Maafkan saya Ibu...Terimakasih Bu Darsih!

Friday, November 27, 2009

Hari Raya Penyempurnaan Agama

       Ketika Nabi Muhammad saw wuquf (berada di Arafah) bertepatan dengan hari raya umat Yahudi dan Nasrani. Pada saat itu tibalah wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad saw.: Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan kepada-mu nikmat-Ku untukmu dan telah Kuridhai Islam (penyerahan diri) menjadi agama untukmu (QS 5 : 3). Demikianlah terjemahan menurut Tim Depag.


       Menarik sekali untuk dipahami dan dihayati berkaitan dengan wahyu terakhir yang turun pada saat umat Islam merayakan Idul Adha. Misalnya, arti akmaltu yang diterjemahkan dengan "Kusempurna-kan", dan atmamtu yang diterjemahkan dengan "Ku­cukupkan".


       Saya tidak tahu persis apa perbedaan antara kedua kata tersebut dalam bahasa Indonesia. Tetapi, Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama tapi tidak serupa. Akmaltu diartikan de­ngan "menghimpun banyak hal yang kesemuanya sempurna dalam satu wadah yang utuh." Sedangkan atmamtu diartikan dengan "menghimpun banyak hal yang belum sempurna sehingga menjadi sempurna."


       "Agama" disempurnakan, sedangkan "nikmat" dicukupkan, seperti halnya dalam bahasa terjemah­an diatas. Ini berarti bahwa petunjuk-petunjuk agama yang beraneka ragam itu kesemuanya dan masing-masingnya telah sempurna. Jangan menduga petunjuk shalat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampaikan oleh Al-Quran masih mempunyai kekurangan-kekurangan. Semua telah sem­purna dan dihimpun dalam satu wadah yaitu din atau yang dinamai dengan agama Islam.


"Nikmat" telah dicukupkan. Memang banyak nikmat Tuhan, misalnya, kesehatan, kekayaan, pengetahuan, keturunan, dan sebagainya. Tetapi, ja­ngan menduga bahwa masing-masing telah sempur­na. Kesemuanya ini, walaupun digabungkan, masih akan kurang. Baru sempurna apabila ia dihimpun bersama dengan apa yang turun dari langit berupa petunjuk-petunjuk Ilahi. Petunjuk-petunjuk itulah ketika digabungkan dengan anugerah-anugerah semacam kesehatan, kekayaan dan sebagainya yang menjadikannya nikmat-nikmat yang sempurna. Bila Anda memperoleh kekayaan tanpa agama, maka betapapun banyaknya ia tetap kurang, demikian pula yang lain.

Din (agama) dan dain (utang) adalah dua kata dari akar yang sama, yang mempunyai kaitan makna yang sangat erat. Beragama berarti usaha mensyukuri anugerah-anugerah Tuhan. Dengan kata lain, membayar "utang" dan "budi baik" Tuhan kepada kita. Sayang,  kita tak mampu membayar tuntas dan sempurna, karena terlalu banyaknya anugerah tersebut, sampai-sampai kita tak dapat lagi menghitungnya. Maka untuk menampakkan itikad baik kita kepada-Nya, kita datang menghadap dan menyerahkan segala apa yang kita miliki sambil berkata: "Ya Allah aku tak mampu membayar utangku, karenanya aku datang menyerahkan wajahku kepada-Mu, Aslamtu wajhi ilaika. "
Inilah
Islam, dalam arti penyerahan diri kepada Allah.

Syukurlah, Allah menerima pembayaran yang demikian, dan dinyatakan secara resmi penerimaan tersebut pada wahyu terakhir itu: Telah Kuridhai (Kuterima dengan puas dan senang) Islam (penyerahan dirimu) sebagai agama (pembayaran utang).


Dari Buku Kisah dan Hikmah Kehidupan Lentera Hati, hal. 42
Penulis M. Quraish Shihab. Penerbit Mizan.


Monday, September 21, 2009

Ketoprak Lebaran

Seorang teman menjadi expatriat di Inggris menyatakan di status Facebooknya “I will neither be satay padang'ing at my parents' nor ketupat pitalah'ing at my in-laws'. Lebaran away from family is sad, but love is still all around...”

Saya jawab japri ke inbox, bahwa keadaan saya tahun ini lebih menyedihkan. Saya harus berlebaran sendirian di Tangerang sementara anak-anak dan istri berada di Jawa Timur. Lebih parah lagi pas hari H lebaran tanggal 20-22 September  2009 saya harus masuk kerja. What a sad life... !
Ternyata nggak cuman saya aja yang bernasib tragis seperti itu, beberapa teman dan saudara juga mengalami hal yang sama. Untung ada facebook, MP dan jejaring sosial dunia maya. Kita bisa berbagi dan saling menguatkan disitu.

Saya pernah mengalami hal yang lebih tidak meng-enakkan lagi dulu di negri orang. Nggak cuman puasa dan  berlebaran sendiri di negara paman Sam, tapi pernah juga sakit demam lalu pergi sendiri mengayuh sepeda ke salah satu puskesmas di San Lorenzo, CA di bulan Ramadhan.  Waktu itu belum ada HP apalagi internet, mau share sama siapa ??. Pengalaman sedih tak terlupakan.

Dari semalaman takbiran sampai subuh aku gak tidur sama sekali di rumah Leo (sepupu), akhirnya aku putuskan untuk pulang dan sholat Ied di dekat rumah aja-lah.  Pagi cerah itu sholat Ied di masjid raya Al Azhom sudah mengubah semua rencana bersilahturahmi ke sanak saudara. 
Salah satu pejabat pemerintah sempat membacakan sambutan Hari Raya Idul Fitri, yang isinya sebagian berisi keberhasilan pembangunan dimasa jabatannya. Kok sempat-sempatnya beriklan sih Pak. Ya,sudahlah saya sudah memaafkannya.

Kontras dengan pidato pejabat yang barusan, ceramah selanjutnya yang disampaikan oleh Pak Ustadz adalah kegagalan negeri ini. Baru kali ini saya mendengar ustadz berceramah sambil sesenggukan karena tangis sambil sesekali terdiam lama, panjang lebar bercerita tentang kebobrokan sendi-sendi masyarakat kita, miris juga hati ini mendengarnya.
Ditengah khotbah saya mulai mengambil posisi dibelakang masjid yang penuh dengan pedagang makanan. Maksudnya supaya tidak terjebak kerumunan bubaran orang.


Sambil tetap mendengarkan khotbah saya menikmati ketoprak lebaran. Kok bukan ketupat siihh.
Ahhh... nggak masalah ketoprak juga lontongnya dari ketupat kan? Yang penting sarapan karena dirumah nggak ada makanan dan sebentar lagi saya harus berangkat bekerja. 
Saya setuju dengan temen yang di rantau, walaupun tanpa ketupat lebaran, but love is still around. Enjoy aja...

Wednesday, September 02, 2009

Bolehkah Seorang Penerbang Berpuasa Sambil Menjalankan Tugasnya (Dinas Terbang)?

Selama bertahun-tahun saya mencoba mencari jawaban pertanyaan ini. Setiap bulan Ramadhan saya mengalami menjalankan ibadah wajib sembari bertugas menerbangkan pesawat sipil komersial. Berbagai metode puasa ala terbang saya jalani, puasa 18 jam lebih (terbang dari timur ke barat, mengejar matahari) atau sebaliknya puasa hanya 10 jam.
Tadinya diawal-awal memasuki dunia penerbangan, saya selalu menjalankan ibadah shaum ini secara penuh walaupun saat dinas terbang. Bagi saya waktu itu, tidaklah gampang membatalkan puasa wajib ini selain syarat-syarat pengecualian yang tertera dalam ajaran agama. Kalau cuma berpuasa sambil terbang apa beratnya sih? Dulu saya malah bermain bola sambil berpuasa, kuat-kuat saja walaupun mencetak golnya nggak sebanyak kalau tidak berpuasa ^_^, kadang habis sahur bermain badminton atau bersepeda 20 km dari daerah Ketintang ke Kantor Pemerintahan kota Surabaya bolak-balik. Paling-paling habis itu tidur sampai lewat dhuhur.
Ternyata tubuh saya kuat melaksanakan puasa sambil terbang walaupun pada jam-jam tertentu saya mengalami kemunduran berkonsentrasi atau rasa kantuk yang hebat, biasanya jam-jam saat ashar.
Telah dijelaskan diberbagai tulisan bahwasannya puasa sedikit banyak mengurangi performa seseorang dalam hal konsentrasi, berpikir mengambil keputusan, penglihatan, menimbulkan rasa kantuk yang disebabkan karena berkurangnya asupan zat-zat makanan dalam tubuh (gula darah, protein, kalori, aliran darah pembawa oksigen dll). Sehingga tidak dipungkiri akan terjadi degradasi kemampuan buat seorang penerbang yang memerlukan konsentrasi ekstra pada fase-fase tertentu misalnya take off, descent, approach, landing, engine failure/kegagalan mesin atau kondisi-kondisi abnormal lainnya. Hal ini bisa terjadi sewaktu-waktu, kapan saja dalam setiap detik fase penerbangan. Sementara itu dalam tubuh kita masing-masing terdapat ritme naik turunnya performa, kadang diatas form beberapa saat kemudian akan jauh turun dibawah form.
Dengan kata lain berpuasa adalah salah satu hazard yang harus di-manage secara baik oleh penerbang. 
Belakangan saya sadar bahwa saya adalah manusia lemah, suka bermain dengan ego, riya, dan suka berjudi. Kok berjudi? Padahal seumur-umur main pachinko aja gak pernah lho. Iya, berarti selama ini saya telah mempertaruhkan nyawa ratusan orang lain hanya demi mendapatkan pahala saya seorang diri. Bagaimana bila Allah memberi cobaan pada saya ketika melaksanakan tugas, seekor burung dimasukan ke mesin saat saya sedang menjalankan terbang dan berpuasa pada suatu sore, Naudzubillah…
Terima kasih ya Allah engkau tidak memberi cobaan itu dan telah mengingatkan pada kesombongan saya.
Kurang lebih sejak lima tahun lalu saya berpuasa dengan melihat situasi dan kondisi. Kalau cuman rutenya pendek lalu dijemput setelah sahur dan sholat subuh sehingga terbang dengan tubuh yang fresh. Kemudian pulangnya pas dhuhur, situasi seperti itu masih dalam batas kemampuan saya. Itupun semua dalam kondisi yang normal, pesawat bagus, cuaca cerah. Ada sedikit deviasi saja saya bisa membatalkan puasa, toh insya Allah saya akan membayar hutang setelah Ramadhan usai. Apalagi musafir kan gak wajib puasa. Saya menyebut posisi saya sebagai musafir terukur, karena ini adalah pekerjaan rutin tiap tahun dan saya bisa mengukur jarak dan waktu perjalanan. Baca juga Artikel Interaktif Quraish Shihab “Puasa Bagi Musafir” di note saya sebelum tulisan ini. "Puasa Bagi Musafir"
Menurut cerita seorang kolega senior, dalam salah satu diskusi-diskusi saya -puasa sambil terbang- didalam kokpit. Di Bangladesh ada suatu airline yang mengeluarkan anjuran yang unik yang berbunyi “Kalau sedang berpuasa janganlah terbang” himbauan pada penerbang secara halus , bukan sebaliknya “Kalau sedang bertugas (terbang) janganlah berpuasa” yang berasumsi melarang orang beribadah. 
Sekarang setelah melewati puluhan diskusi dan bacaan mengenai isu ini, saya lebih sering tidak berpuasa selama bertugas menerbangkan pesawat. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada kaum muslim lain dan teman seprofesi yang menjalankan ibadah puasa, hanya semata-mata hanya karena faktor keselamatan penerbangan dan takut riya.
Lebih baik saya berdosa seorang diri daripada saya bertaruh pada keselamatan ratusan orang yang berada dalam tanggung jawab duniawi saya. Tuhan pasti paham. Ya Allah ampunilah hambamu ini, seorang manusia dengan penuh keterbatasan.
Catatan: Dari dulu saya ingin menulis hal ini, sampai dengan beberapa hari kemarin baca note yang ada di FBnya Mbak Tia Razak dengan judul serupa. 
Beberapa teman saya tag di note ini untuk mewakili pendapatnya (kalau ada) dari kelompoknya masing-masing baik yang praktisi penerbangan maupun bukan, baik yang pernah belajar mengenai fiqih masalah ini ataupun tidak. Buat yang kebetulan baca walaupun tidak di-tag juga boleh lho memberi masukan, saya batasi maksimum tagging cuman 25 orang, anda boleh me-remove tagging kapan saja, Thanks!. Dari diskusi panjang di kokpit tentunya dengan kru penerbang dengan bermacam latar belakang tentulah ada pro dan kontra, menurut survey saya yang kurang sependapat dengan saya, sekitar 70-80 persen. Tulisan saya bukanlah untuk membuat suatu kesimpulan tentang isu ini, Saya tidak terpikir untuk membuat semacam fatwa bagi saya sendiri atau buat orang lain. Sekali lagi semuanya kembali kepada anda dengan limitasi dan kemampuan anda sendiri, You have to know your own limitation, that’s the best answer so far. 
Mohon maaf bila ada rekan yang tidak sependapat dengan tulisan saya, karena ini hanya semata-mata pendapat pribadi saya saja. 
Mungkin selain profesi penerbang ada lagi profesi yang tidak diwajibkan berpuasa karena mengandung hazard (bukan mudharat) bagi keselamatan orang lain, misalnya seorang yang berprofesi sebagai dokter yang sedang melakukan operasi vital yang memerlukan konsentrasi tinggi. Bagaimana pendapat rekan-rekan dokter?
Tulisan tambahan
Setelah bertahun-tahun akhirnya saya mendapat jawaban yang sepemikiran dengan pendapat pribadi saya ini, dari MUI.
Dikeluarkan sebagai salah satu dari 7 fatwa dalam Musyawarah Nasional MUI ke-8 di Hotel Twin Plaza, Jl S Parman, Jakarta Barat, Selasa (27/07/2010).
"Penerbang (pilot) diperbolehkan meninggalkan ibadah puasa Ramadan," ujar Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni'am Sholeh. Meski begitu para pilot tidak bisa serta merta meninggalkan puasa. Bagi penerbang yang harus melakukan perjalanan secara terus menerus dapat mengganti puasanya dengan fidyah. Sedangkan yang statusnya temporal diwajibkan mengganti puasanya di hari lain.